JurnalPatroliNews | Manado – Dinamika politik nasional yang belakangan menjadi perhatian publik mendapat respons dari kalangan tokoh agama di Sulawesi Utara. Masyarakat diimbau tetap tenang, tidak mudah terpengaruh spekulasi, serta menjaga kerukunan di tengah berkembangnya berbagai persoalan nasional.
Pesan tersebut disampaikan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Utara, Pdt. Renata Ticonuwu, S.Th., M.Th., menyikapi perkembangan situasi nasional, termasuk mencuatnya kasus dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto.
Renata menilai, masyarakat perlu menyikapi setiap perkembangan dengan kepala dingin dan tidak terburu-buru menarik kesimpulan terhadap persoalan yang proses penanganannya masih berlangsung.
Menurutnya, informasi yang berkembang belum tentu menggambarkan keseluruhan peristiwa. Karena itu, masyarakat sebaiknya memberikan ruang kepada pemerintah dan aparat penegak hukum untuk menjalankan tugas sesuai kewenangannya.
“Lebih arif jika kita menunggu saja apa langkah Presiden nanti. Sebagai masyarakat, kita harus tetap waspada karena tidak mengetahui secara persis apa yang sebenarnya sedang terjadi di negeri ini,” ujar Renata.
Kasus dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto memang menjadi perhatian dalam dinamika pemerintahan nasional. Pada Rabu (4/11/2026), Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengungkapkan bahwa Presiden telah meminta Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto mengusut perkara tersebut secara objektif, transparan, dan sesuai ketentuan hukum.
Pemerintah juga menyatakan belum mengetahui secara terperinci motif di balik dugaan penyadapan tersebut karena proses penyidikan masih berjalan.
Di tengah perkembangan itu, Renata mengingatkan agar masyarakat Sulawesi Utara tidak kehilangan fokus terhadap kepentingan yang lebih besar, yakni menjaga persatuan, kedamaian, dan keharmonisan kehidupan sosial.
Sebagai daerah yang dikenal memiliki keberagaman agama dan latar belakang masyarakat, Sulawesi Utara dinilai memiliki tanggung jawab bersama untuk mempertahankan tradisi toleransi yang selama ini menjadi kekuatan sosial.
Renata secara khusus mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat persaudaraan antarumat beragama serta tidak membiarkan isu-isu nasional memicu perpecahan di lingkungan masyarakat.
“Yang terpenting, kita tetap menjaga dan merawat kerukunan serta toleransi masyarakat Sulawesi Utara. Fokus saja membangun daerah dan mengawal langkah pembangunan yang sementara dilaksanakan gubernur,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat memberikan perhatian terhadap agenda pembangunan daerah yang tengah dijalankan Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus.
Menurutnya, stabilitas sosial dan hubungan harmonis antarumat beragama merupakan modal penting bagi keberlanjutan pembangunan. Tanpa suasana daerah yang kondusif, berbagai program pembangunan berpotensi menghadapi tantangan dalam pelaksanaannya.
Sebelumnya, Gubernur Yulius Selvanus juga menegaskan pentingnya peran FKUB sebagai jembatan komunikasi antarumat beragama sekaligus penjaga harmoni sosial. Hal tersebut disampaikannya saat melantik pengurus FKUB Sulawesi Utara periode 2026–2031.
Pesan tersebut mempertegas bahwa tanggung jawab menjaga kerukunan tidak hanya berada di pundak pemerintah dan tokoh agama, tetapi juga membutuhkan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat.
Di tengah berbagai dinamika nasional, Sulawesi Utara diharapkan tetap menjadi daerah yang menjunjung tinggi toleransi, memperkuat persaudaraan, dan menjaga stabilitas sosial.
Bagi FKUB, perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan yang harus dirawat demi terciptanya kehidupan masyarakat yang damai dan pembangunan daerah yang berkelanjutan.















Komentar