JurnalPatroliNews | Jakarta – Kasus ISPA akibat karhutla menjadi perhatian serius pemerintah setelah Kementerian Kesehatan mencatat 401.586 kasus secara kumulatif di tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota. Untuk memperkuat penanganan dampak kesehatan akibat kebakaran hutan dan lahan tersebut, pemerintah mengerahkan 9.355 tenaga kesehatan serta menyediakan 814 rumah oksigen di wilayah terdampak.
Data Kementerian Kesehatan hingga 2 November 2026 pukul 16.00 WIB menunjukkan bahwa gangguan pernapasan menjadi salah satu persoalan kesehatan yang membutuhkan perhatian di tengah situasi karhutla.
Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Widyawati, mengatakan penyediaan fasilitas oksigen tidak cukup hanya dilihat dari jumlah unit yang tersedia. Pemerintah juga harus memastikan masyarakat dapat menjangkau layanan tersebut ketika mengalami gangguan pernapasan akibat paparan asap.
“Yang menjadi perhatian kami sebenarnya bukan semata-mata jumlah dari rumah oksigen yang tersedia, melainkan juga bagaimana memastikan dukungan oksigen tersebut dapat diakses masyarakat yang membutuhkan, terutama bagi pasien-pasien yang terganggu pernapasannya,” ujar Widyawati dalam konferensi pers, dikutip Kamis (5/11/2026).
814 Rumah Oksigen Tersebar di Tujuh Provinsi
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi per 3 November 2026, sebanyak 814 rumah oksigen telah disebar di tujuh provinsi yang terdampak karhutla.
Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah fasilitas terbanyak, yakni 336 unit. Berikutnya Kalimantan Selatan sebanyak 175 unit, Kalimantan Barat 158 unit, dan Jambi 131 unit.
Sementara itu, Riau memperoleh 10 unit, Sumatera Selatan tiga unit, dan Kalimantan Timur satu unit.
Penyediaan rumah oksigen tersebut ditujukan untuk memperkuat akses masyarakat terhadap dukungan oksigen, terutama bagi pasien yang mengalami gangguan pernapasan dan membutuhkan penanganan kesehatan.
Selain fasilitas tersebut, pemerintah juga memobilisasi 9.355 tenaga kesehatan untuk mendukung pelayanan di daerah terdampak.
Kalimantan Timur menjadi provinsi dengan jumlah tenaga kesehatan terbanyak, mencapai 5.525 orang. Disusul Jambi sebanyak 2.589 orang, Kalimantan Tengah 487 orang, Sumatera Selatan 382 orang, Riau 209 orang, Kalimantan Barat 121 orang, serta Kalimantan Selatan 42 orang.
Dokter hingga Pengemudi Ambulans Dilibatkan
Widyawati menjelaskan, tenaga yang dikerahkan tidak hanya berasal dari kalangan dokter. Mobilisasi tersebut melibatkan berbagai profesi dan kompetensi, termasuk bidan, apoteker, ahli gizi, hingga pengemudi ambulans.
Keterlibatan lintas profesi diperlukan agar pelayanan kesehatan di wilayah terdampak dapat berjalan lebih cepat dan menjangkau kebutuhan masyarakat secara lebih luas.
“Dan ini menunjukkan penanganan dampak karhutla tidak hanya membutuhkan tenaga medis, tetapi juga membutuhkan dukungan tenaga kesehatan lintas kompetensi untuk respons cepat. Kami memastikan koordinasi Dinas Kesehatan provinsi terus diperkuat untuk mendukung kebutuhan pelayanan kesehatan di wilayah terdampak,” jelasnya.
Menurut Kementerian Kesehatan, koordinasi dengan dinas kesehatan di tingkat provinsi terus diperkuat untuk memastikan distribusi personel dan kebutuhan pelayanan disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah.
Jutaan Masker dan Peralatan Medis Disalurkan
Upaya penanganan dampak karhutla juga diperkuat melalui distribusi logistik kesehatan. Hingga 4 November 2026 pukul 15.00 WIB, pemerintah telah menyalurkan sekitar 3,8 juta masker, 280 unit konsentrator oksigen, 41 ribu pasang sarung tangan medis, serta 939 tabung oksigen.
Bantuan tersebut dilengkapi ribuan alat pelindung diri (APD), air purifier, makanan tambahan, obat-obatan, vitamin, dan berbagai perlengkapan medis lainnya.
Distribusi dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan fasilitas kesehatan di masing-masing wilayah, sehingga dukungan yang diberikan dapat menunjang pelayanan kepada masyarakat terdampak.
Balita dan Lansia Masuk Kelompok Perhatian
Besarnya angka kasus ISPA juga menjadi perhatian karena penyakit tersebut tercatat pada berbagai kelompok usia.
Dari total 401.586 kasus yang dilaporkan di tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota, sebanyak 91.913 kasus terjadi pada balita berusia 0–5 tahun. Kelompok anak usia 6–9 tahun mencatat 87.704 kasus, sedangkan kelompok lanjut usia di atas 60 tahun mencapai 56.092 kasus.
Kementerian Kesehatan juga mencatat 590 ibu hamil, 1.530 penderita asma, serta 8.086 pekerja luar ruangan dalam kelompok yang menjadi perhatian terkait risiko paparan asap karhutla.
Data tersebut memperlihatkan pentingnya perlindungan kesehatan bagi kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus, termasuk anak-anak, ibu hamil, lansia, penderita penyakit pernapasan, dan pekerja yang beraktivitas di luar ruangan.
Dengan mobilisasi ribuan tenaga kesehatan, penyediaan rumah oksigen, serta distribusi perlengkapan medis, pemerintah berupaya memperkuat respons kesehatan di wilayah terdampak.
Namun, besarnya jumlah kasus yang tercatat juga menegaskan bahwa penanganan dampak karhutla tidak cukup hanya dilakukan melalui pelayanan medis. Pengendalian kebakaran hutan dan lahan serta perlindungan masyarakat dari paparan asap tetap menjadi bagian penting untuk menekan risiko kesehatan lebih lanjut.















Komentar