JurnalPatroliNews – Jakarta — Dinamika pasar keuangan global menunjukkan pergeseran preferensi investor dalam memilih aset aman (safe haven) di tengah konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah. Jika selama ini emas menjadi pilihan utama, kini sebagian investor mulai melirik Bitcoin sebagai alternatif lindung nilai.
Perubahan ini tercermin dari arus dana yang bergerak signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Dalam sepekan terakhir, sekitar 3,8 miliar dolar AS tercatat keluar dari dua ETF emas terbesar, yakni SPDR Gold Shares (GLD) dan iShares Gold Trust (IAU).
Sebaliknya, ETF berbasis Bitcoin justru mencatat aliran dana masuk sekitar 2 miliar dolar AS dalam beberapa pekan terakhir, menunjukkan meningkatnya minat investor terhadap aset kripto tersebut.
Sejalan dengan itu, harga Bitcoin juga menunjukkan tren positif. Berdasarkan data CoinMarketCap, hingga Rabu (25/3/2026), Bitcoin menguat sekitar 1,17 persen ke level 71.167 dolar AS.
Analis ETF senior dari Bloomberg Intelligence, Eric Balchunas, menilai Bitcoin mulai menunjukkan karakteristik sebagai aset aman di tengah gejolak global.
“Sejak serangan terhadap Iran, Bitcoin secara mengejutkan terlihat seperti aset aman yang cukup baik, sementara emas justru tidak,” ujarnya.
Meski demikian, Balchunas mengingatkan bahwa masih terlalu dini untuk menyimpulkan adanya perubahan permanen dalam preferensi investor. Ia menekankan bahwa hubungan antara Bitcoin dan emas tidak selalu berlawanan.
“Korelasinya lebih mendekati nol, bukan berbanding terbalik. Keduanya sama-sama berfungsi sebagai penyimpan nilai, hanya saja yang satu lebih lama dikenal, sementara yang lainnya relatif baru,” jelasnya.
Perkembangan ini menandai perubahan lanskap investasi global, di mana aset digital mulai mendapatkan tempat sebagai alternatif lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.













