Rupiah Tembus Rp17.017 per Dolar AS, Tertekan Lonjakan Harga Minyak Dunia

JurnalPatroliNews – Jakarta –  Nilai tukar rupiah dibuka melemah hingga menembus level Rp17 ribu per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin (9/3/2026). Pelemahan mata uang domestik terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global yang mendorong lonjakan harga minyak dunia.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di posisi Rp17.017 per dolar AS. Angka tersebut melemah 0,40 persen dibandingkan penutupan perdagangan Jumat (6/3/2026) yang berada di level Rp16.992 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang diterbitkan oleh Bank Indonesia tercatat di level Rp16.919 per dolar AS.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan tekanan terhadap rupiah dipicu memburuknya sentimen pasar global akibat meningkatnya ketegangan geopolitik.

“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS oleh sentimen risk off yang memburuk karena kenaikan harga minyak,” ujar Lukman.

Ia menjelaskan, lonjakan harga minyak mentah yang telah menembus 100 dolar AS per barel menjadi salah satu faktor utama yang menekan nilai tukar rupiah dan berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi Indonesia.

“Dikhawatirkan akan berdampak besar pada perekonomian global dan inflasi,” kata dia.

Lukman memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini berada di kisaran Rp16.900 hingga Rp17.050 per dolar AS.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah dunia melonjak tajam. Minyak jenis Brent crude oil untuk kontrak pengiriman Mei 2026 tercatat naik 18,35 dolar AS atau sekitar 19,8 persen menjadi 111,04 dolar AS per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman April 2026 naik 16,50 dolar AS atau 18,2 persen menjadi 107,40 dolar AS per barel.

Mengutip laporan Reuters, lonjakan harga minyak dipicu kekhawatiran gangguan pengiriman energi melalui jalur strategis Selat Hormuz.

Kekhawatiran tersebut muncul setelah Amerika Serikat dan Israel dilaporkan membombardir kilang minyak milik Iran pada Minggu (7/3/2026). Peristiwa itu mendorong harga minyak mencapai level tertinggi sejak Juli 2022.