3 Hari Setelah Kapal Tenggelam di Delta Mahakam, Ini Kondisi 6 Awak yang Diselamatkan PHM

JurnalPatroliNews | Muara Pantuan — Tiga hari setelah kapal masyarakat tenggelam di perairan Delta Mahakam, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, perhatian kini beralih pada proses pendampingan enam awak kapal yang berhasil diselamatkan tim patroli keamanan PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM).

Keenam awak kapal tersebut sebelumnya berada dalam situasi kritis setelah kapal yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan ketika berlayar dari Muara Pantuan menuju Pulau Nubi, Kecamatan Anggana, Selasa 1 September lalu.

Kapal dilaporkan terhempas akibat kondisi angin dan gelombang yang buruk hingga kemasukan air dan akhirnya tenggelam di sekitar wilayah sumur migas yang berada dalam area operasi PHM.

Yang menjadi titik krusial dalam peristiwa ini bukan hanya kapal yang tenggelam, tetapi bagaimana enam orang di dalamnya berhasil ditemukan dan dievakuasi dalam waktu relatif singkat.

Informasi awal datang dari awak TB Paramount Fortune yang melintas di kawasan perairan dangkal Delta Mahakam sekitar pukul 17.45 WITA. Mereka melihat kapal masyarakat telah tenggelam sekitar 3,2 kilometer dari daratan dan mendapati enam awak kapal memberikan tanda meminta pertolongan.

Laporan tersebut kemudian memicu respons tim patroli keamanan PHM dari Fasilitas South Processing Unit (SPU).

Menggunakan armada ST Ruhen 28, tim bergerak menuju titik kejadian. Sekitar pukul 18.20 WITA, seluruh enam awak kapal berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat.

Pasca-evakuasi, Pendampingan Jadi Perhatian

Setelah proses penyelamatan selesai, PHM tidak berhenti pada evakuasi. Keenam awak kapal mendapatkan tempat untuk beristirahat dan penanganan lanjutan, sementara perusahaan melakukan koordinasi dengan pemerintah setempat terkait kebutuhan mereka serta proses kepulangan.

Langkah tersebut menjadi penting mengingat insiden terjadi di kawasan perairan yang juga bersinggungan dengan aktivitas operasi hulu migas.

General Manager PHM Muzwir Wiratama mengatakan keselamatan manusia menjadi prioritas perusahaan ketika kondisi darurat terjadi di sekitar wilayah operasi.

“Bagi kami, melihat enam saudara kita berhasil diselamatkan dan dapat segera kembali berkumpul dengan keluarganya merupakan kebahagiaan tersendiri,” ujar Wira, sapaan Muzwir, dalam keterangan tertulis, Jumat (4/9/2026).

Menurut dia, respons terhadap warga yang membutuhkan pertolongan merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan, sekaligus mencerminkan komitmen PHM terhadap keselamatan pekerja maupun masyarakat di sekitar wilayah operasinya.

Keselamatan Masyarakat di Tengah Aktivitas Hulu Migas

Peristiwa ini juga memperlihatkan bagaimana wilayah operasi hulu migas dan aktivitas masyarakat di Delta Mahakam berada dalam ruang geografis yang sama.

PHM sendiri mengelola Wilayah Kerja Mahakam yang membentang dari kawasan delta hingga perairan Selat Makassar. Wilayah kerja tersebut mencakup sekitar

3.266 kilometer persegi dan menjadi salah satu wilayah produksi migas penting di Kalimantan Timur.

Di sisi lain, aktivitas hulu migas PHM di kawasan tersebut terus berkembang. Terbaru, perusahaan menyelesaikan proyek pengembangan Sisi Nubi Area of Interest (SNB AOI) 1-3-5 setelah platform WPN-5 mulai beroperasi pada 24 Agustus 2026. Sumur NB-501 dari platform tersebut kemudian mencatat produksi awal sekitar 6,12 juta standar kaki kubik gas per hari.

Artinya, ketika aktivitas produksi dan pengembangan lapangan terus berjalan, aspek keselamatan di wilayah perairan yang juga digunakan masyarakat menjadi semakin penting.

PHM: Keselamatan dan Kemanusiaan Tetap Utama

Muzwir menegaskan PHM akan terus berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan untuk memastikan keenam awak kapal mendapatkan pendampingan hingga proses kepulangan berjalan baik.

“Kepedulian terhadap keselamatan pekerja dan masyarakat sekitar merupakan bagian dari komitmen PHM dalam menjalankan kegiatan hulu migas yang selamat, andal, bertanggung jawab, dan berkelanjutan,” tegasnya.

Ia juga memastikan bahwa ketika masyarakat membutuhkan pertolongan di sekitar wilayah operasi, PHM akan berupaya memberikan respons sesuai kemampuan dan prosedur yang berlaku.

“Keselamatan dan kemanusiaan menjadi hal yang utama,” pungkasnya.

Kini, setelah enam awak kapal berhasil diselamatkan dari perairan Delta Mahakam, perhatian berikutnya bukan lagi sekadar pada proses evakuasi, melainkan memastikan mereka dapat kembali ke keluarga dengan aman sekaligus memperkuat budaya keselamatan di kawasan yang menjadi ruang bersama antara aktivitas masyarakat dan operasi hulu migas.

Komentar