Krisis Irigasi Ancam Ratusan Hektare Sawah di Jatiluwih, Petani Terpaksa Alih Fungsi Lahan

JurnalPatroliNewsTabanan, Bali – Di tengah sorotan dunia sebagai situs Warisan Budaya Dunia UNESCO, kawasan persawahan Jatiluwih justru sedang menghadapi ancaman serius: rusaknya jaringan irigasi yang berpotensi membuat ratusan hektare lahan pertanian mengering.

Ketut Wiarta, petani di wilayah Tempek Kedamian, menjadi salah satu korban langsung dari kerusakan ini. Sejak saluran air utama ambruk akibat hujan deras pada Februari lalu, lahannya seluas setengah hektare tak lagi bisa ditanami padi.

“Sudah dilaporkan ke pihak terkait, tapi belum ada perbaikan. Lahan saya kini malah ditumbuhi ilalang dan pohon pisang,” ujar Wiarta, Sabtu, 12 Juli 2025.

Kerusakan ini tidak hanya berdampak pada sawah milik Wiarta. Pekaseh atau pemimpin subak Jatiluwih, I Nyoman Sutama, menjelaskan bahwa dua subak utama, yakni Subak Kedamian dan Subak Besi Kalung, kini terancam kekeringan total. Keduanya mengelola hampir 100 hektare sawah yang digarap oleh puluhan petani.

Sutama juga memaparkan bahwa dari total 40 kilometer jaringan irigasi di kawasan Jatiluwih, hanya sekitar 30 persen yang masih berfungsi dengan baik. Sisanya rusak parah, kebanyakan karena faktor usia—dibangun sejak akhir 1960-an dan belum pernah mendapatkan renovasi menyeluruh.

“Bahkan terowongan air di bawah desa sudah mulai rapuh. Kalau tidak segera diperbaiki, kerusakannya bisa meluas,” jelas Sutama.

Selain kerusakan fisik, Jatiluwih juga menghadapi tantangan dari menyusutnya sumber air irigasi. Debit sungai-sungai utama seperti Yeh Ho, Yeh Baat, Munduk Abangan, dan Yeh Pusut terus berkurang akibat konversi lahan di daerah hulu yang mengganggu sistem ekologi alami.

“Kalau ini terus dibiarkan, bukan cuma panen yang hilang. Status Warisan Budaya Dunia pun bisa terancam,” tandas Sutama dengan nada prihatin.

Para petani dan tokoh subak berharap pemerintah segera turun tangan dengan solusi konkret, agar krisis air ini tidak merusak ekosistem pertanian tradisional Bali yang selama ini dijaga secara turun-temurun.