JurnalPatroliNews – Jakarta – Tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berlanjut sejak awal perdagangan hingga sesi pertama pada Selasa, 26 Januari 2026. Pergerakan indeks terus berada di zona negatif seiring respons pasar atas penetapan Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia.
Pada pukul 11.30 WIB, IHSG tercatat melemah 0,98 persen atau turun 87,62 poin ke posisi 8.887. Kondisi tersebut mencerminkan sikap hati-hati investor yang semakin kuat di pasar modal.
Ekonom Universitas Brawijaya, Noval Adib, menilai koreksi IHSG ini bukan sekadar faktor teknikal, melainkan mencerminkan menurunnya tingkat kepercayaan pelaku pasar terhadap arah pengelolaan ekonomi nasional.
“Sejak pembukaan pagi hingga menjelang siang, IHSG terus berada di zona merah. Ini menandakan investor memandang risiko berinvestasi di Indonesia semakin besar,” ujar Noval saat dihubungi RMOL.
Menurutnya, tekanan pasar muncul akibat persepsi investor terhadap melemahnya pemisahan antara kebijakan fiskal dan moneter. Padahal, kedua instrumen tersebut seharusnya berfungsi saling mengimbangi dalam menjaga stabilitas ekonomi.
“Investor melihat pengendalian fiskal dan moneter kini berada dalam satu garis kendali. Kebijakan moneter yang seharusnya menjadi penyeimbang fiskal justru dianggap hanya sebagai pelengkap,” jelasnya.
Noval menambahkan, kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa bank sentral tidak lagi sepenuhnya independen dalam menentukan kebijakan strategis, sehingga meningkatkan persepsi risiko di mata investor.
Ia juga mengingatkan potensi meningkatnya arus keluar modal asing apabila sentimen negatif ini tidak segera diredam.
“Capital outflow bisa membesar ketika investor menilai iklim investasi makin tidak menarik akibat tata kelola ekonomi yang dipersepsikan kurang transparan dan efektif,” katanya.
Lebih lanjut, Noval menegaskan bahwa kekhawatiran pasar terutama dipicu oleh anggapan menyatunya kendali fiskal dan moneter, yang dinilai dapat memengaruhi kredibilitas kebijakan ekonomi Indonesia ke depan.
Sebagai catatan, Thomas Djiwandono dikenal sebagai Bendahara Umum Partai Gerindra, kader aktif partai politik, serta memiliki hubungan keluarga dengan Presiden Prabowo Subianto.












