Kampus Tak Boleh Hanya Jadi Penonton! Pentahelix Center Luncurkan SPEKTRA Public Lecture

JurnalPatroliNews | Jakarta – Ruang akademik tidak semestinya hanya menjadi tempat para akademisi menyampaikan teori dan menguji gagasan di antara kalangan intelektual. Masyarakat yang berhadapan langsung dengan persoalan ekonomi juga perlu memperoleh kesempatan menyampaikan pengalaman, kritik, serta pemikiran mereka. Semangat inilah yang akan dibawa Pentahelix Center melalui peluncuran SPEKTRA Public Lecture di Universitas MH Thamrin, Jakarta, pada 10 November 2026.

Mengusung tema Menguj​​i Gagasan Publik di Ruang Akademik, forum yang diluncurkan bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan tersebut dirancang sebagai ruang dialog terbuka antara perguruan tinggi dan masyarakat. Salah satu pendekatan yang ditawarkan adalah memberikan kesempatan kepada publik untuk tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga tampil sebagai narasumber dalam pembahasan berbagai persoalan kebijakan publik, khususnya perkoperasian dan kemandirian ekonomi rakyat.

Inisiatif ini merupakan pengembangan gerakan Sekolah Penggerak Koperasi Nusantara (SPEKTRA), yang sebelumnya dideklarasikan dalam Festival Gunung Manglayang, Sumedang, pada 17 Oktober 2026. Melalui kolaborasi Pentahelix Center dengan Universitas MH Thamrin, gerakan tersebut diperluas ke lingkungan perguruan tinggi agar pertukaran pengetahuan dapat berlangsung lebih terbuka, kritis, dan melibatkan pengalaman masyarakat.

Ketua Pentahelix Center, Alip Purnomo, menilai perguruan tinggi memiliki tanggung jawab lebih dari sekadar menjalankan fungsi pendidikan. Kampus juga perlu mengambil peran dalam mengawal arah kebijakan publik melalui kajian akademis, kritik konstruktif, dan rekomendasi yang dapat menjadi bahan penyempurnaan kebijakan.

Menurutnya, perdebatan mengenai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) seharusnya tidak berhenti pada perbedaan pandangan mengenai implementasi program. Isu tersebut justru dapat dimanfaatkan untuk memperluas pemahaman masyarakat tentang prinsip dasar koperasi, demokrasi ekonomi, serta kemandirian anggota.

“Perdebatan tentang KDKMP semestinya menjadi pintu masuk kampus dalam membangun literasi publik mengenai koperasi. Kampus tidak boleh hanya mengamati atau mengomentari kebijakan pemerintah. Perguruan tinggi harus berani menguji, mengkritisi, menawarkan perbaikan, bahkan menyempurnakan gagasan kebijakan yang belum lengkap. Dengan cara ini kebijakan satu dengan yang lain bisa terhubung dan tidak bertabrakan. Jika orang kampus hanya menonton, bagaimana pula dengan rakyat kebanyakan?” ujar Alip.

Koperasi Tidak Cukup Berhenti pada Pembentukan Kelembagaan

Dalam pandangan Pentahelix Center, koperasi perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya memperkuat demokrasi ekonomi. Keberadaannya tidak cukup dinilai berdasarkan legalitas badan usaha maupun kelengkapan administrasi, tetapi juga harus dilihat dari sejauh mana anggota memiliki ruang berpartisipasi dan memperoleh manfaat dari kegiatan ekonomi bersama.

Tata kelola, kapasitas pengelola, keterlibatan anggota, serta keberlanjutan usaha menjadi sejumlah aspek penting yang perlu diperhatikan. Terlebih, penerapan kebijakan perkoperasian di desa dan kelurahan memiliki tantangan tersendiri karena setiap wilayah mempunyai karakteristik sosial dan ekonomi yang berbeda.

Dalam konteks KDKMP, pembahasan mengenai kesiapan kelembagaan, kebutuhan anggota, model bisnis, hingga keterhubungan dengan kebijakan ekonomi lainnya membutuhkan kajian yang menyeluruh. Karena itu, ruang akademik diharapkan mampu menghadirkan pembahasan yang tidak hanya normatif, tetapi juga mempertimbangkan kondisi nyata masyarakat.

Masyarakat Bukan Sekadar Pendengar

Hal yang membedakan SPEKTRA Public Lecture dari pola diskusi konvensional adalah kesempatan bagi masyarakat untuk mengajukan diri sebagai narasumber.

Pengalaman pelaku koperasi, pengamatan warga, temuan lapangan, maupun kritik terhadap kebijakan dapat dibawa ke forum untuk dibahas secara terbuka. Dengan demikian, pengetahuan yang berkembang di tengah masyarakat memiliki kesempatan untuk diuji dan dipertemukan dengan perspektif akademis.

Pola dialog dua arah ini diharapkan memperkecil jarak antara perguruan tinggi dan persoalan publik. Akademisi memperoleh perspektif empiris sebagai bahan analisis, sementara masyarakat mendapatkan ruang untuk menyampaikan persoalan secara lebih terstruktur dan argumentatif.

Melalui mekanisme tersebut, pembahasan kebijakan tidak hanya bertumpu pada pandangan pemangku kepentingan atau teori akademis, tetapi juga memperhitungkan pengalaman mereka yang berhadapan langsung dengan praktik ekonomi dan kelembagaan koperasi.

Momentum Hari Pahlawan, Menguatkan Kemandirian Ekonomi

Pemilihan 10 November sebagai waktu peluncuran juga membawa pesan mengenai relevansi semangat kepahlawanan dalam kehidupan masa kini. Perjuangan membangun bangsa tidak hanya berkaitan dengan mempertahankan kemerdekaan, tetapi juga memperkuat kemampuan masyarakat dalam membangun kehidupan ekonomi yang mandiri.

Koperasi menjadi salah satu instrumen yang dapat dibahas dalam kerangka tersebut. Namun, keberhasilannya membutuhkan partisipasi anggota, tata kelola yang sehat, kapasitas kelembagaan, dan kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Pentahelix Center berharap kemitraan dengan Universitas MH Thamrin dapat memperkuat peran perguruan tinggi sebagai ruang pengembangan literasi publik sekaligus tempat menguji gagasan kebijakan secara kritis dan bertanggung jawab.

Masyarakat yang ingin mengikuti kegiatan secara langsung dapat memperoleh informasi dan melakukan pendaftaran melalui tautan resmi:

(https://pentahelixcenter.id/form/form-kehadiran-offline-spektra/)

Melalui SPEKTRA Public Lecture, ruang akademik diharapkan tidak hanya menjadi tempat bertemunya teori dan pemikiran, tetapi juga pengalaman dan aspirasi masyarakat. Sebab, kebijakan publik yang kuat membutuhkan keterbukaan terhadap kritik, keberanian menguji gagasan, serta partisipasi warga yang terdampak oleh pelaksanaannya.

Komentar