JurnalPatroliNews – JAKARTA — Fenomena langit tahunan hujan meteor Lyrid diperkirakan akan menghiasi langit Indonesia pada Kamis dini hari, 23 April 2026. Peristiwa astronomi ini dapat disaksikan langsung dengan mata telanjang, selama kondisi cuaca cerah dan minim polusi cahaya.
Berdasarkan prakiraan NASA, puncak hujan meteor Lyrid terjadi pada Selasa malam hingga Rabu pagi waktu Amerika Serikat. Dengan perbedaan waktu, pengamat di Indonesia berpeluang menyaksikan puncaknya pada dini hari Kamis.
Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional, Thomas Djamaluddin, menyebutkan bahwa pada puncaknya, masyarakat dapat melihat sekitar 10 hingga 20 meteor per jam yang melintas dari arah rasi Lyra di langit utara.
“Waktu terbaik untuk pengamatan adalah mulai dini hari hingga menjelang matahari terbit,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi tahun ini cukup menguntungkan karena cahaya bulan sabit tidak akan mengganggu pengamatan. Bulan diperkirakan telah terbenam sebelum puncak hujan meteor terjadi.
Fenomena Tertua dari Jejak Komet Thatcher
Hujan meteor Lyrid merupakan salah satu fenomena astronomi tertua yang pernah tercatat, dengan sejarah pengamatan lebih dari 2.500 tahun. Fenomena ini berasal dari sisa-sisa debu yang ditinggalkan oleh Komet Thatcher.
Peneliti dari School of the Art Institute of Chicago, Maria Valdes, menjelaskan bahwa komet tersebut hanya melintas dekat Bumi setiap sekitar 415 tahun sekali. Namun, setiap tahun Bumi melewati jalur puing yang ditinggalkannya.
Ketika partikel-partikel tersebut memasuki atmosfer Bumi, gesekan dengan udara menghasilkan panas yang membuatnya terbakar dan tampak sebagai garis cahaya terang di langit, yang dikenal sebagai meteor atau “bintang jatuh”.
Tips Menyaksikan Hujan Meteor
Untuk mendapatkan pengalaman terbaik, masyarakat disarankan mencari lokasi yang jauh dari polusi cahaya, seperti di daerah perbukitan atau pedesaan.
Thomas menegaskan bahwa pengamatan tidak memerlukan alat bantu seperti teleskop. “Cukup dengan mata telanjang, karena teleskop justru membatasi medan pandang,” jelasnya.
Pengamat juga disarankan memberi waktu bagi mata untuk beradaptasi dengan kegelapan selama 15 hingga 30 menit, serta menghindari penggunaan ponsel agar penglihatan tetap optimal.
Selain itu, membawa perlengkapan sederhana seperti kursi santai atau alas tidur dapat membantu kenyamanan selama mengamati langit.
Bagi yang melewatkan fenomena ini, masih ada kesempatan lain. Pada awal Mei mendatang, langit malam kembali akan diramaikan oleh hujan meteor Eta Aquarids yang berasal dari sisa Komet Halley.














