Kim Yo Jong: AS Harus Akui Korea Utara sebagai Negara Nuklir, Bukan Tekan untuk Denuklirisasi

JurnalPatroliNews – Jakarta – Kim Yo Jong, adik perempuan dari Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un, kembali melontarkan pernyataan tegas kepada Amerika Serikat. Ia memperingatkan bahwa setiap tekanan untuk melucuti senjata nuklir Pyongyang hanya akan berakhir sia-sia.

Mengutip laporan AFP, Kim Yo Jong dalam siaran resmi media pemerintah Korut menyatakan bahwa Washington sebaiknya segera menerima kenyataan bahwa Korea Utara adalah negara bersenjata nuklir, bukan terus menuntut denuklirisasi.

“Segala bentuk upaya untuk menolak status Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK) sebagai negara nuklir akan ditolak secara keras,” ujarnya.

Kim juga menyinggung hubungan pribadi antara Kim Jong Un dan Presiden AS saat itu, Donald Trump. Menurutnya, meski hubungan keduanya tidak sepenuhnya buruk, hal itu tidak boleh dimanfaatkan sebagai alat tekanan diplomatik.

“Saya akui hubungan pribadi antara pemimpin kami dan Presiden Trump tidaklah bermasalah. Tetapi saya ingin mengingatkan Washington untuk tidak menyalahgunakan hubungan itu demi mendorong denuklirisasi,” tegasnya.

Pernyataan keras tersebut muncul usai seorang pejabat AS menyebut bahwa Trump masih terbuka untuk berdialog dengan Kim Jong Un terkait pelucutan senjata nuklir. Menurut Kim Yo Jong, komentar semacam itu justru bisa dianggap meremehkan kedaulatan dan kekuatan negaranya.

“Menjadikan hubungan pribadi sebagai sarana negosiasi dapat dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap kami,” katanya.

Dalam masa jabatan pertama Presiden Trump, ia telah bertemu dengan Kim Jong Un sebanyak tiga kali. Pertemuan-pertemuan itu awalnya memberikan harapan akan stabilitas di Semenanjung Korea. Namun, pembicaraan di Hanoi tahun 2019 kandas tanpa kesepakatan, memicu kembalinya ketegangan.

Sejak kegagalan perundingan tersebut, Korea Utara semakin intens mengembangkan program nuklirnya. Hubungan langsung antara kedua pemimpin pun terhenti, sementara sikap Pyongyang terhadap tekanan eksternal menjadi semakin keras dan tidak kompromis.