JurnalPatroliNews – Jakarta – Pengamat politik dan demokrasi, Adhie M. Massardi, menyoroti gelaran Kongres Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tahun 2025 di Solo, yang menurutnya menyimpan berbagai paradoks politik.
Salah satu yang menjadi sorotan ialah kehadiran mantan Presiden Joko Widodo dalam acara tersebut, yang kini dinilai sedang mencari “panggung” pasca lengser dari kekuasaan.
“Yang jadi sorotan publik, khususnya di media sosial, bukan isi pidatonya, tapi bagaimana Jokowi memberi wejangan di forum partai yang kini dipimpin oleh putranya sendiri, Kaesang Pangarep,” ujar Adhie, Minggu, 20 Juli 2025. “Kelihatannya, PSI kini jadi semacam panggung pengganti tempat Jokowi melanjutkan narasi-narasi politiknya.”
Adhie juga menyinggung istilah “partai super terbuka” yang dilontarkan Jokowi dan kini diadopsi PSI sebagai slogan utama. Menurutnya, publik justru menanggapi dengan sinisme. “Di mata netizen, kata ‘super terbuka’ justru dibaca sebaliknya: eksklusif untuk yang tunduk pada tokoh tertentu. Ketika Jokowi menyebut PSI akan jadi partai besar, orang malah teringat klaim lamanya tentang ‘Rp11 ribu triliun di kantong saya’,” sindirnya.
Lebih jauh, Adhie menyebut kongres kali ini semakin mengukuhkan PSI sebagai bagian dari dinasti politik Jokowi. Dengan Kaesang kembali ditetapkan sebagai ketua umum—di gedung Graha Saba Buana yang tak jauh dari kediaman keluarga Jokowi dan dibangun sebagai hadiah ulang tahun untuk Iriana—proses regenerasi kepemimpinan PSI dinilainya sarat kepentingan politik keluarga.
“Kaesang makin kokoh di puncak partai. Jadi ketua umum itu tidak mudah, butuh banyak modal dan—dalam konteks ini—privilege sebagai anak mantan penguasa,” lanjut Adhie.














