Ia juga menyinggung sejarah awal PSI yang sempat membawa harapan baru dalam dunia perpolitikan Indonesia. Didirikan oleh kalangan muda progresif, dengan simbol mawar merah ala gerakan sosialis Eropa, PSI sempat dipandang sebagai alternatif segar dari parpol-parpol lama yang kian oligarkis. Tapi, menurut Adhie, semua harapan itu runtuh ketika para elit PSI mulai menunjukkan loyalitas penuh terhadap kekuasaan.
“Simbol perjuangan berubah jadi simbol pengabdian. Mereka rela jongkok di tangga Istana demi sebutir remah kekuasaan. Bahkan Kaesang diangkat sebagai ketum hanya tiga hari setelah resmi jadi kader partai. Itu jadi titik balik yang membuat PSI kehilangan wajah idealismenya,” ucapnya tajam.
Adhie juga menyinggung perubahan logo PSI dari mawar menjadi gajah berwarna merah dan hitam. Baginya, itu bukan hanya soal desain, melainkan simbol baru yang penuh makna kontradiktif.
“Kepala gajah yang merah menjulang terpisah dari tubuh yang hitam menggambarkan realitas partai: elit dan anggota berjalan di jalur yang berbeda. Itu bukan metamorfosis, tapi metafora keterpisahan arah dan nasib,” ujarnya.
Mengaitkan simbol gajah dengan konteks budaya dan sejarah Indonesia, Adhie mengangkat dua makna: gajah Lampung yang identik dengan sepak bola kontroversial tahun 1988—di mana tim sengaja mencetak gol bunuh diri demi menghindari kekalahan—dan gajah Abrahah dari kisah serangan ke Ka’bah yang diabadikan dalam Al-Qur’an surat Al-Fil.
“Logo PSI kini justru mengingatkan kita pada pasukan gajah Abrahah yang hancur lebur karena keserakahan. Dalam surat Al-Fil ayat terakhir disebutkan mereka menjadi ‘daun-daun yang dimakan ulat’—lambang kehancuran total akibat kesombongan,” pungkas Adhie, yang juga pernah menjadi juru bicara Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid.














