JurnalPatroliNews – Jakarta – Kamis malam, 4 September 2025, sejumlah perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi mulai terlihat memasuki kawasan Istana Merdeka. Kehadiran mereka terpantau sejak sekitar pukul 19.00 WIB, sebagian besar mengenakan jaket almamater yang menandai identitas kampus masing-masing.
Salah satu yang hadir adalah Muhammad Raihan, mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Jakarta sekaligus anggota Aliansi BEM PTNU Nasional. Ia menuturkan bahwa rombongan mahasiswa tersebut datang dengan membawa sejumlah isu penting untuk disampaikan langsung kepada pemerintah.
Isu pertama yang mereka angkat ialah mengenai peningkatan kesejahteraan guru honorer. Raihan menegaskan, karena mahasiswa dari kampusnya bergerak di bidang pendidikan, maka nasib guru honorer menjadi salah satu fokus utama perjuangan mereka.
“Poin awal dari tuntutan kami adalah soal kesejahteraan guru honorer, karena memang itu sangat dekat dengan dunia pendidikan tempat kami belajar,” ujarnya.
Selain itu, mahasiswa juga mendesak agar aparat membebaskan rekan-rekan mereka yang sempat diamankan saat aksi unjuk rasa sebelumnya. “Kawan-kawan yang sempat ditahan, kami minta seluruhnya dibebaskan,” tambah Raihan.
Terkait dengan siapa yang akan ditemui, Raihan menyebut besar kemungkinan Presiden Prabowo yang akan menerima langsung aspirasi mereka. “InsyaAllah kami bisa bertemu presiden,” ucapnya optimistis.
Di sisi lain, Ketua Presidium Pengurus Pusat PMKRI periode 2024–2026, Susana Florika Marianti Kandaimu, mengonfirmasi bahwa maksud kedatangan mereka adalah untuk beraudiensi dengan pihak istana.
“Kami merasa penting menyampaikan pandangan generasi muda terkait kondisi bangsa hari ini, terutama dalam kerangka menyongsong Indonesia Emas,” ungkap Florika.
Saat ditanya apakah gelombang aksi akan berhenti setelah bertemu presiden, ia menegaskan penyampaian aspirasi tidak akan berhenti. “Sebagai anak muda, kami akan terus menyuarakan pandangan dan aspirasi, tentu di waktu dan forum yang tepat,” tandasnya.














