Alarm Bahaya! War Risk Insurance Dicabut di Hormuz, Jalur Minyak Dunia Terancam Lumpuh

Sejumlah operator kapal memilih menunda pelayaran, mengalihkan rute distribusi, atau menunggu kepastian situasi keamanan. Di sisi lain, lonjakan premi asuransi risiko perang berdampak langsung pada peningkatan biaya logistik global.

“Ketika biaya logistik naik, harga energi ikut terdorong. Ini yang kemudian memicu tekanan inflasi, tidak hanya di satu negara, tetapi secara global,” ujarnya.

Dalam perspektif ekonomi global, gangguan di Selat Hormuz tidak hanya memengaruhi sektor energi, tetapi juga stabilitas pasar keuangan internasional. Ketidakpastian pasokan minyak berpotensi meningkatkan volatilitas harga, menekan sektor industri, serta memperlambat pertumbuhan ekonomi di berbagai negara.

“Pasar global sangat sensitif. Bahkan tanpa gangguan fisik, hanya dengan meningkatnya persepsi risiko saja, harga minyak sudah bisa melonjak. Ini menunjukkan betapa strategisnya posisi Selat Hormuz,” kata Soleman.

Ia menilai, langkah perusahaan asuransi menarik perlindungan merupakan respons atas meningkatnya ancaman keamanan, termasuk potensi serangan drone dan rudal terhadap kapal tanker, serta eskalasi konflik antara Iran dan negara-negara Barat. Meski belum terjadi penutupan jalur secara fisik, kondisi tersebut sudah cukup menciptakan tekanan serius terhadap aktivitas pelayaran.

Fenomena ini, lanjutnya, mencerminkan perubahan pola konflik modern yang semakin kompleks. “Sekarang tidak perlu menutup jalur secara fisik. Cukup dengan menciptakan risiko tinggi, kapal akan enggan melintas. Ini yang saya sebut sebagai disrupsi berbasis risiko,” ujarnya.

Dalam konteks strategis, Soleman menilai asuransi maritim kini telah menjadi instrumen tidak langsung dalam dinamika geopolitik global. Tanpa konfrontasi militer terbuka, gangguan terhadap sistem asuransi sudah mampu melumpuhkan distribusi energi dunia.

Dampak situasi tersebut juga berpotensi dirasakan Indonesia. Sebagai negara yang masih mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari, sebagian jalur distribusi energi nasional bergantung pada kawasan Timur Tengah, termasuk Selat Hormuz.

“Kalau gangguan ini berlanjut, dampaknya akan langsung terasa di dalam negeri. Harga BBM bisa naik, subsidi membengkak, inflasi meningkat, dan nilai tukar rupiah tertekan,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa dalam jangka panjang, tekanan tersebut berpotensi mengganggu stabilitas fiskal nasional serta menurunkan daya beli masyarakat.

Menutup analisanya, Soleman menegaskan bahwa dinamika di Selat Hormuz saat ini menjadi pelajaran penting bagi banyak negara, termasuk Indonesia, mengenai urgensi memperkuat ketahanan energi nasional.

“Ini bukan lagi soal blokade fisik, tapi blokade risiko. Ketika jalur energi tidak bisa diasuransikan, distribusi global bisa terganggu tanpa satu peluru pun ditembakkan. Dampaknya langsung ke ekonomi dunia,” pungkasnya.