JurnalPatroliNews – Jakarta – Mantan Presiden Joko Widodo menyatakan kesiapannya untuk terjun langsung membantu Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dalam menghadapi kontestasi politik ke depan.
Pernyataan tersebut langsung menyedot perhatian publik karena menandai keterlibatan aktif Jokowi di arena politik nasional setelah tak lagi menjabat sebagai kepala negara.
Pengamat politik Adi Prayitno menilai kehadiran Jokowi di PSI memiliki bobot strategis yang jauh melampaui status sebagai pendukung. Menurutnya, Jokowi kini menjadi figur kunci yang memberi arah sekaligus daya tarik utama bagi partai berlambang gajah itu.
“Dalam konteks PSI, Jokowi berperan sebagai figur sentral yang memegang pengaruh besar,” ujar Adi melalui kanal YouTube miliknya, Minggu, 1 Februari 2026.
Namun, Adi menegaskan bahwa langkah Jokowi tersebut juga sarat risiko politik. Pasalnya, setelah tidak lagi berada di bawah payung PDI Perjuangan, muncul keraguan publik mengenai sejauh mana kekuatan politik Jokowi masih bekerja secara efektif.
Ia menyebut keterlibatan langsung Jokowi akan menjadi pembuktian apakah daya tarik elektoral yang dimilikinya bersifat personal atau selama ini sangat bergantung pada mesin partai besar.
Pernyataan Jokowi itu disampaikan dalam Rapat Kerja Nasional PSI yang berlangsung di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu, 31 Januari 2026. Dalam pidatonya, Jokowi menekankan pentingnya penguatan struktur organisasi partai hingga lapisan paling bawah.
Ia menyampaikan bahwa partai yang ingin besar harus memiliki jaringan kepengurusan yang solid hingga tingkat desa, bahkan menjangkau RT dan RW. Jokowi juga menyatakan kesiapannya untuk turun langsung ke berbagai daerah, mulai dari provinsi, kabupaten, hingga kecamatan, apabila dibutuhkan demi memperkuat konsolidasi partai.














