Ia merinci beberapa inisiatif kunci yang telah dijalankan di masing-masing lini usaha:
- Pertamina Hulu Energi telah mengimplementasikan 180 inisiatif dekarbonisasi dan berhasil menurunkan emisi hingga 1,18 juta ton CO₂e, melebihi target 2024, serta mengembangkan dua proyek CCS/CCUS penting.
- Kilang Pertamina Internasional melaksanakan burner boiler upgrade yang berhasil memangkas emisi sebesar 431 ribu ton CO₂e sepanjang 2024.
- Pertamina International Shipping mengusung eco-ship design, sistem bahan bakar tiga jenis (LPG, ammonia, dan lainnya), dan menegaskan komitmennya pada target NZE 2050.
- PGN (Perusahaan Gas Negara) memperluas jaringan gas rumah tangga, SPBG, serta mulai mengembangkan biomethane dari limbah organik, yang berdampak pada pengurangan emisi sebesar 150 ribu ton CO₂e setiap tahun.
- Pertamina Patra Niaga mendorong pemakaian bahan bakar rendah karbon seperti B40, Pertamax Green 95, dan Sustainable Aviation Fuel (SAF) untuk menekan emisi scope 3.
- Pertamina NRE (New & Renewable Energy) mencatat pertumbuhan signifikan sejak 2020, dengan portofolio meliputi panas bumi, tenaga surya, baterai, hidrogen, hingga layanan O&M. PNRE juga menargetkan valuasi sebesar USD 10 miliar melalui proyek-proyek strategis seperti gas to power, karbon, biomassa, hidrogen hijau, dan PLTS berskala besar.
Melalui forum ini, Pertamina berharap tak hanya berbagi strategi dan pencapaian, tapi juga membangun kolaborasi yang lebih erat di antara subholding dan membuka pintu investasi hijau dari mitra global.
“Untuk mempercepat tercapainya NZE pada 2060, atau bahkan lebih cepat, kolaborasi internasional dalam bentuk pembiayaan dan alih teknologi sangat dibutuhkan,” tutup Indira.














