Warga di Gaza juga menyuarakan kekhawatiran yang sama. Salah seorang penduduk di Gaza utara mengatakan bahwa bantuan yang dijatuhkan dari udara bisa saja mendarat di atas tenda pengungsi, dan itu bisa membunuh orang yang kelaparan.
Situasi Memburuk: Kelaparan Massal dan Puluhan Ribu Korban Jiwa
Sementara itu, kondisi di Gaza semakin mengenaskan. Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas melaporkan bahwa dalam beberapa hari terakhir, setidaknya 125 orang—termasuk 85 anak-anak—meninggal dunia akibat kelaparan.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut situasi ini sebagai bentuk “kelaparan massal yang disebabkan oleh manusia.”
Israel dan negara-negara pendukungnya, termasuk Amerika Serikat, sebelumnya juga mendirikan Gaza Humanitarian Foundation (GHF) sebagai kanal resmi penyaluran bantuan. Namun, organisasi itu turut terseret kontroversi setelah beberapa insiden distribusi menyebabkan jatuhnya korban jiwa.
Laporan menyebut warga Palestina tewas akibat kericuhan di titik distribusi bantuan. Sementara saksi mata menyalahkan pasukan Israel, IDF mengklaim hanya melepaskan tembakan peringatan dan menuduh Hamas sebagai pemicu kekacauan.
Konflik ini sendiri berakar dari serangan Hamas ke wilayah Israel selatan pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyebabkan 251 orang lainnya disandera. Sebagai respons, Israel meluncurkan operasi militer besar-besaran ke Gaza yang hingga kini, menurut otoritas lokal, telah menewaskan lebih dari 59.000 jiwa.














