Konfirmasi Resmi Kiev: Puluhan Ribu Tentara Ukraina Tewas dan Hilang dalam 4 Tahun Perang

JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky secara terbuka membeberkan angka terbaru mengenai kerugian personel militer Ukraina sejak pecahnya perang dengan Rusia pada 24 Februari 2022.

Dalam pernyataan resminya pada Kamis (5/2/2026), Zelensky menyebutkan bahwa sebanyak 55.000 tentara Ukraina telah tewas di medan perang.

Angka tersebut merupakan data gabungan yang mencakup prajurit profesional maupun mereka yang direkrut melalui mekanisme wajib militer selama hampir empat tahun konflik berlangsung.

Data yang disampaikan Zelensky ini juga mengonfirmasi bahwa jumlah tersebut mencakup para personel militer yang hingga kini masih dilaporkan hilang dalam tugas.

Pengungkapan data korban jiwa ini menjadi salah satu momen langka di mana pemerintah Ukraina memberikan angka spesifik mengenai kerugian di pihak mereka.

Zelensky menekankan bahwa puluhan ribu nyawa yang gugur tersebut adalah bukti nyata dari pengorbanan besar rakyat Ukraina dalam menjaga kedaulatan wilayah mereka dari invasi skala penuh Rusia.

Bersamaan dengan penyampaian data korban, Zelensky kembali melontarkan seruan keras kepada pemerintah Amerika Serikat sebagai sekutu utama.

Menurutnya, Amerika Serikat memiliki kapasitas terbesar untuk menekan Rusia agar segera mengakhiri konflik melalui jalur diplomasi atau tekanan total.

Zelensky menilai bahwa hingga saat ini Presiden Rusia Vladimir Putin belum merasakan tekanan yang cukup signifikan, sehingga perang masih terus berlanjut tanpa tanda-tanda deeskalasi.

Zelensky mendesak Amerika Serikat dan sekutu Barat untuk memberikan kejelasan posisi: jika jalan diplomasi tidak membuahkan hasil, maka tekanan penuh melalui pasokan senjata yang lebih masif dan sanksi yang melumpuhkan seluruh ekonomi Rusia harus segera dilakukan.

Baginya, penambahan kekuatan militer dan isolasi ekonomi terhadap Moskow adalah satu-satunya cara untuk memaksa Rusia berhenti.

Ia berharap komunitas internasional tidak membiarkan pengorbanan 55.000 tentaranya menjadi sia-sia tanpa adanya solusi perdamaian yang adil.