RSF Diduga Habisi 114 Warga Sipil demi Menyembunyikan Kekejaman di El Fasher

JurnalPatroliNews – Jakarta – Kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) kembali disorot dunia setelah aksi kekerasan brutal di Sudan. Sedikitnya 114 warga sipil, termasuk 46 anak-anak, tewas dalam serangan di Kalogi, Kordofan Selatan.

Pemerintah Sudan menilai serangan ini bertujuan mengalihkan perhatian publik dari tragedi berdarah di El Fasher, Darfur Utara, yang sebelumnya diduga dilakukan oleh kelompok yang sama.

Menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Sudan pada Minggu, 7 Desember 2025, serangan terjadi Kamis, 4 Desember 2024, sebagai bagian dari rangkaian tindakan yang mereka sebut sebagai kampanye genosida RSF terhadap masyarakat Sudan.

Laporan awal menyebut taman kanak-kanak menjadi sasaran pertama, ketika drone melontarkan roket langsung ke area pendidikan tersebut.

“Tujuan serangan itu jelas — menewaskan sebanyak mungkin anak,” tegas kementerian, dikutip dari UPI.

Tidak berhenti di serangan pertama, ketika warga mencoba mengevakuasi para korban, RSF kembali meluncurkan serangan kedua dan menewaskan lebih banyak warga sipil — anak-anak kembali mendominasi daftar korban.

Aksi RSF juga dikabarkan mengejar para korban dan tenaga medis hingga ke rumah sakit, bahkan menembakkan roket ke gedung pemerintahan, sehingga jumlah korban jiwa mencapai 114 orang.

Perwakilan UNICEF Sudan, Sheldon Yett, mengecam keras tindakan tersebut.

“Pembunuhan anak-anak di lingkungan sekolah merupakan pelanggaran paling keji terhadap hak anak,” ujarnya.

Yett menegaskan bahwa anak-anak tidak boleh menjadi korban dalam konflik bersenjata dan mendesak seluruh pihak segera menghentikan kekerasan serta membuka akses bantuan kemanusiaan.

Jejak Kekerasan di El Fasher Semakin Terungkap

Dalam enam pekan terakhir, RSF disebut menguasai El Fasher setelah pengepungan panjang, lalu melakukan pembunuhan massal terhadap warga lokal.

Investigasi menyebut kota tersebut berubah menjadi ‘ruang kejadian perkara raksasa’, dengan jenazah berserakan di berbagai titik.

Citra satelit mengindikasi upaya RSF menghapus jejak pembantaian dengan mengumpulkan mayat secara besar-besaran untuk dikubur di kuburan massal atau dibakar. Kota itu pun ditutup untuk penyelidik kejahatan perang PBB.

Diperkirakan saat ini sekitar 60.000 warga sipil tewas di El Fasher, sementara 150.000 lainnya masih dinyatakan hilang.