JurnalPatroliNews – Jakarta – Maskapai penerbangan di Amerika Serikat (AS) mulai membatalkan ratusan penerbangan pada Kamis (6/11/2025) setelah Administrasi Penerbangan Federal (FAA) memerintahkan pengurangan lalu lintas udara di sejumlah bandara tersibuk akibat penutupan (shutdown) pemerintah federal yang masih berlangsung.
Menurut data dari situs pelacak penerbangan FlightAware, hampir 700 penerbangan yang dijadwalkan untuk Jumat (7/11/2025) telah dibatalkan, empat kali lebih banyak dari total pembatalan harian sebelumnya. Jumlah ini diperkirakan terus bertambah seiring diberlakukannya perintah pengurangan layanan.
FAA memerintahkan pengurangan layanan di 40 bandara besar di lebih dari 24 negara bagian, termasuk Atlanta, Dallas, Denver, Los Angeles, Charlotte, serta beberapa bandara di wilayah metropolitan New York, Houston, Chicago, dan Washington DC.
Langkah ini diambil karena para pengendali lalu lintas udara mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan setelah bekerja tanpa bayaran sejak penutupan dimulai pada 1 Oktober 2025.
FAA menurunkan layanan hingga 10 persen di pasar dengan volume tinggi untuk menjaga keselamatan penerbangan.
“Kami perlu mengurangi tekanan pada para pengendali lalu lintas udara yang kelelahan. Keselamatan tetap prioritas utama,” ujar seorang pejabat FAA yang enggan disebutkan namanya, dikutip dari AP News, Jumat (7/11/2025).
Beberapa maskapai besar seperti American Airlines, Delta, dan United telah mengumumkan pembatalan sejumlah rute.
American Airlines, misalnya, mengurangi jadwal penerbangan sebesar 4 persen dari Jumat (31/10/2025) hingga Senin (3/11/2025), atau sekitar 220 penerbangan per hari.
Maskapai lain memilih memangkas rute menuju kota-kota kecil dan menengah untuk meminimalkan gangguan di hub besar.
Namun, kebijakan tersebut tetap menimbulkan keresahan di kalangan penumpang yang telah merencanakan perjalanan akhir pekan.
“Saya khawatir tidak bisa kembali tepat waktu untuk pernikahan sahabat saya,” ujar Fallon Carter, penumpang dari New York yang membatalkan penerbangannya ke Tampa, Florida.
Pengurangan layanan juga mengancam sektor logistik. Dua pusat distribusi utama, FedEx di Memphis dan UPS di Louisville, termasuk dalam daftar bandara terdampak.
Menurut analisis firma riset Cirium, kebijakan ini berpotensi memengaruhi sekitar 1.800 penerbangan atau lebih dari 268.000 penumpang per hari.
Penundaan dan pembatalan dapat berlangsung tanpa batas waktu hingga kondisi kepegawaian membaik. Sebelumnya, beberapa fasilitas kendali lalu lintas udara telah melaporkan kekurangan staf parah, terutama pada akhir pekan.
Untuk mengurangi dampak terhadap pelanggan, sejumlah maskapai memberikan pengembalian dana penuh bagi penumpang yang memilih tidak terbang, termasuk bagi tiket yang semula tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
Salah satu penumpang, Kelly Matthews dari Michigan, mengaku memahami kondisi tersebut. “Kita tidak bisa berharap orang bekerja tanpa bayaran. Mereka juga harus membayar bensin dan biaya hidup,” katanya.
Krisis ini menambah tekanan bagi industri penerbangan AS yang tengah bersiap menghadapi musim liburan akhir tahun. Tanpa solusi politik atas shutdown pemerintahan federal, gangguan perjalanan udara diperkirakan akan terus meluas dan memengaruhi jutaan penumpang di seluruh negeri.














