JurnalPatroliNews – Jakarta – Pesawat yang membawa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menuju Amerika Serikat untuk menghadiri Sidang Umum PBB ke-80 menempuh jalur udara tak biasa pada Kamis (25/9/2025). Alih-alih melintasi sebagian besar wilayah Eropa, penerbangan itu memilih rute memutar melalui Laut Mediterania dan Selat Gibraltar.
Menurut laporan TRT yang mengutip media Israel, keputusan tersebut diyakini mencerminkan hubungan diplomatik yang memburuk antara Netanyahu dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Selain itu, ada kekhawatiran bahwa sang perdana menteri dapat ditangkap jika pesawatnya terpaksa melakukan pendaratan darurat di negara anggota Mahkamah Pidana Internasional (ICC).
Catatan FlightRadar24 yang juga dikutip ABC menunjukkan, jet Netanyahu sempat melintasi Yunani dan Italia, sebelum berbelok tajam ke arah barat, melewati Selat Gibraltar, lalu menyeberangi Samudra Atlantik menuju New York. Rute ini membuat penerbangan bertambah sekitar dua jam dibanding jalur normal.
ICC sebelumnya mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu terkait dugaan kejahatan perang di Gaza tahun 2024. Netanyahu menolak tuduhan tersebut dan menyebut langkah ICC “tidak berdasar serta keliru.”
Prancis, Spanyol, Italia, dan Yunani merupakan bagian dari 124 negara yang telah meratifikasi Statuta Roma ICC. Hal inilah yang membuat izin terbang di atas wilayah mereka dianggap berisiko secara politik.
“Dulu publik tidak bisa mengetahui detail semacam ini. Namun dengan teknologi pelacakan penerbangan real-time di ponsel, semua orang bisa memantau pergerakan pesawat seorang pemimpin dunia. Diplomasi pun ikut berubah,” ujar Steve Ganyard, mantan Wakil Asisten Menteri Luar Negeri AS.
Total penerbangan Netanyahu kali ini memakan waktu 13 jam. Padahal, biasanya perjalanan komersial dari Tel Aviv menuju Bandara JFK New York hanya sekitar 11 jam. Hingga kini, kantor Netanyahu belum mengeluarkan pernyataan resmi.
Setibanya di New York, Netanyahu dijadwalkan menyampaikan pidato pada Jumat pagi pukul 09.00 waktu setempat dan bertemu Presiden AS Donald Trump.














