Taliban Pakistan: Kekerasan di Wilayah Kesukuan Meningkat, Warga Diseret dan Ditembak di Kepala

  • Whatsapp
Foto dari tahun 2008 ini menunjukkan seorang anggota Taliban Pakistan meletakkan senjata sebelum salat di Distrik Orakzai. AFP

JurnalPatroliNews Ponsel milik Israr, 17, berdering ketika dia sedang terlelap tidur.

Saat itu pukul 02:00 dini hari dan remaja tersebut kelelahan berat setelah bekerja seharian sebagai penjaga.

BACA JUGA :

Di ujung telepon abangnya mengabarkan bahwa sejumlah laki-laki tiba-tiba masuk ke rumah keluarga, menyeret ayah mereka keluar, dan menembaknya di kepala.

“Abang meminta saya segera pulang,” kenang Israr. Namanya disamarkan demi keselamatannya.

Saya bertemu Israr di Orakzai, salah satu dari tujuh distrik di kawasan kesukuan Pakistan.

Sama seperti provinsi-provinsi di wilayah Afghanistan yang berbatasan dengan Pakistan, mayoritas penduduk Orakzai adalah suku Pashtun.

Selang tiga hari setelah ayah Israr dibunuh, sebuah cabang dari organisasi ISIS mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan itu. Mereka dikenal dengan sebutan Negara Islam Provinsi Khorasan (ISIS-K).

ISIS-K menuduh ayah Israr sebagai informan militer Pakistan, tuduhan yang ditepis oleh Israr.

“Ayah mempunyai toko di Orakzai. Ia senang membantu sesama warga sukunya, khususnya mereka yang kembali pulang setelah mengungsi karena perang,” ungkap Israr.

“Dia tidak punya musuh. Ia adalah salah seorang pemuka masyarakat di daerah ini.”

Di Afghanistan, Taliban dan ISIS-K terlibat dalam perang berdarah untuk menunjukkan siapa yang paling unggul.

Di Pakistan, situasinya lebih tidak jelas.

Kekerasan meningkat

Serangan terhadap ayah Israr bukanlah satu-satunya.

Di hari yang sama, seorang pria lainnya juga ditembak mati di Orakzai, juga karena dituduh sebagai “informan” militer Pakistan. ISIS-K juga mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.

Orakzai tercatat sebagai salah satu dari tujuh daerah kesukuan, termasuk Bajaur, Mohmand, Khyber, Kurram, Waziristan Utara dan Waziristan Selatan yang sebelumnya dikendalikan berdasarkan undang-undang dari era kolonial Inggris.

Baru pada Mei 2018 daerah-daerah itu dilebur ke dalam Provinsi Khyber Pakhtunkhwa dan dijadikan distrik, yang dikendalikan pemerintahan sipil.

Pos terkait