Taliban Tolak Rencana Trump Rebut Kembali Pangkalan Udara Bagram

JurnalPatroliNews – Jakarta – Pemerintahan Taliban menegaskan penolakannya terhadap pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang ingin merebut kembali Pangkalan Udara Bagram di Afghanistan. Fasilitas militer terbesar yang pernah digunakan pasukan AS itu telah ditinggalkan sejak penarikan pasukan pada 2021 lalu.

Mengutip laporan AP News, Senin (22/9/2025), Trump dalam konferensi pers pada Sabtu lalu menyebut Washington tengah “berbicara dengan Afghanistan” terkait kemungkinan menghidupkan kembali kehadiran militer di Bagram. Namun, ia enggan membeberkan detail lebih jauh tentang pembicaraan tersebut.

Saat ditanya wartawan apakah akan menurunkan pasukan untuk merebut pangkalan itu, Trump takmemberi jawaban gamblang.


“Kami menginginkannya kembali, dan kami menginginkannya segera. Jika mereka tidak memberikannya, kalian akan tahu apa yang akan saya lakukan,” kata Trump.

Pernyataan itu langsung ditanggapi oleh juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, pada Minggu (21/9). Ia menolak keras klaim Trump dan meminta AS agar mengedepankan “realisme serta rasionalitas” dalam kebijakan luar negerinya.

“Afghanistan memiliki orientasi politik luar negeri yang berbasis ekonomi dan berupaya menjalin hubungan konstruktif dengan semua negara berdasarkan kepentingan bersama,” tulis Mujahid melalui akun X resminya.

Mujahid menegaskan, dalam berbagai negosiasi bilateral, Taliban selalu menekankan bahwa kemerdekaan dan kedaulatan wilayah Afghanistan adalah harga mati. Ia juga mengingatkan kembali isi Perjanjian Doha, di mana AS berkomitmen tidak akan mengancam kedaulatan ataupun mencampuri urusan dalam negeri Afghanistan.

“Amerika Serikat harus tetap konsisten pada komitmen tersebut,” tegas Mujahid.

Meski demikian, ia tidak menjawab pertanyaan mengenai adanya percakapan dengan pemerintahan Trump soal Bagram maupun alasan Trump yakin AS bisa merebut kembali pangkalan itu.

Sebelumnya, Trump dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Jumat (19/9/2025), menegaskan tekadnya.

“Ngomong-ngomong, kami sedang berusaha mendapatkannya kembali. Itu mungkin terdengar mengejutkan, tapi kami ingin pangkalan itu kembali karena mereka membutuhkan sesuatu dari kami,” ujarnya, dikutip dari AFP.