Usai Maduro Tumbang, Trump Bidik Stabilitas Pemerintahan Kuba

JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman terbuka terhadap Kuba menyusul tumbangnya Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang selama ini menjadi sekutu utama Havana. Pernyataan keras tersebut memicu kekhawatiran baru terkait stabilitas Kuba, negara yang bertahun-tahun bergantung pada suplai energi dari Venezuela.

Situasi kian genting setelah Amerika Serikat menyita sejumlah kapal tanker minyak milik Venezuela, termasuk kapal berbendera Rusia. Langkah ini secara langsung menghentikan aliran minyak ke Kuba dan memperparah tekanan ekonomi yang sudah lama dirasakan negara Karibia tersebut.

Trump menilai Kuba selama ini mampu bertahan berkat bantuan minyak dan dukungan finansial Venezuela, yang menurutnya diberikan sebagai imbalan kerja sama di bidang keamanan. Namun, ia menegaskan era tersebut telah berakhir.

“Tidak akan ada lagi minyak, tidak ada lagi uang untuk Kuba. Nol. Mereka sebaiknya segera membuat kesepakatan sebelum semuanya terlambat,” tulis Trump melalui media sosial, sebagaimana dikutip Reuters pada Senin, 12 Januari 2026.

Meski demikian, Trump tidak merinci bentuk kesepakatan yang ia maksud maupun tuntutan konkret yang harus dipenuhi pemerintah Kuba.

Tak lama berselang, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel merespons dengan nada keras. Ia menuding Amerika Serikat tidak memiliki dasar moral untuk menghakimi Kuba, sekaligus mengecam sanksi Washington yang dinilainya tidak manusiawi dan menekan rakyat sipil.

Pemerintah Kuba juga mengungkap klaim bahwa sebanyak 32 personel militernya tewas dalam operasi Amerika Serikat yang berujung pada penangkapan Nicolas Maduro. Personel tersebut disebut berada di Caracas dalam rangka kerja sama keamanan antara Kuba dan Venezuela.

Sementara itu, Trump menyatakan bahwa Venezuela kini berada di bawah pengaruh dan perlindungan Amerika Serikat. Ia menegaskan tanpa sokongan dari Caracas, perekonomian Kuba akan semakin terpuruk. “Kuba akan runtuh. Mereka akan kalah besar,” ujar Trump.

Sebelum krisis politik Venezuela memuncak, Kuba sendiri telah dilanda persoalan ekonomi berat, mulai dari pemadaman listrik berkepanjangan, kelangkaan bahan bakar, hingga keterbatasan pasokan pangan. Terputusnya suplai minyak dari Venezuela diperkirakan akan memperdalam krisis tersebut dalam waktu dekat.