Warga Kulit Hitam Ditembak Mati Polisi di Atlanta-AS, Kepala Polisi Mengundurkan Diri

  • Whatsapp
Rayshard Brooks meninggal pada hari Jumat setelah ditembak oleh petugas polisi.

JurnalPatroliNewsKepala kepolisian di Atlanta, Amerika Serikat mengundurkan diri menyusul penembakan fatal terhadap seorang pria Afrika-Amerika yang ketiduran di mobilnya di depan sebuah restoran layanan tanpa turun (drive-through).

Rayshard Brooks, 27 tahun, ditembak oleh seorang petugas polisi dalam pergumulan pada Jumat malam, kata pihak berwenang.

Bacaan Lainnya

Ini merupakan insiden kematian warga Afrika-Amerika kedua oleh polisi dalam tiga pekan, menyusul kasus George Floyd di Minneapolis yang telah memicu aksi protes menentang rasisme di berbagai belahan dunia.

Walikota Atlanta Keisha Lance Bottoms mengatakan, Kepala Kepolisian Erika Shields menyerahkan pengunduran dirinya pada hari Sabtu (13/06).

Selama tiga minggu terakhir, orang-orang di seluruh AS telah melakukan aksi protes terkait kematian George Floyd, seorang pria kulit hitam yang meninggal setelah lehernya ditekan lutut polisi.

Erika Shields telah menjabat sebagai kepala kepolisian sejak Desember 2016 dan telah bekerja di departemen kepolisian Atlanta selama lebih dari 20 tahun. Ia akan terus bekerja di departemen itu dalam peran lain, kata Walikota Bottoms.

“Karena keinginannya agar Atlanta menjadi model reformasi di negeri ini, Shields mengundurkan diri sebagai kepala polisi sehingga kota bisa segera bergerak maju dan membangun kembali kepercayaan yang sangat dibutuhkan di masyarakat kita,” kata Walikota Bottoms dalam sebuah pernyataan.

Salah satu petugas polisi Atlanta yang terlibat dalam penembakan itu, Garrett Rolfe, telah dipecat, dan petugas polisi lainnya, Devin Bronsan, telah ditempatkan dalam tugas administrasi. Masing-masing telah bertugas selama enam dan dua tahun di kepolisian Atlanta.

Apa yang terjadi pada Jumat malam?

Biro Investigasi Georgia (GBI) tengah menyelidiki kematian Brooks dan menilik video dari kamera keamanan di dalam restoran cepat saji serta rekaman dari saksi mata.

Mereka mengatakan polisi dipanggil ke restoran karena Brooks tertidur di mobilnya, yang menghalangi jalur kendaraan.

Menurut polisi, Brooks menolak penangkapan setelah tidak lolos tes breathalyzer (tes untuk mengukur kadar alkohol dalam napas).

Dalam video yang direkam oleh saksi mata, Brooks terlihat berada di tanah di luar restoran, bergumul dengan dua petugas polisi.

Ia meraih pistol listrik (Taser) milik petugas dan melepaskan diri, kemudian lari. Petugas lain kemudian berhasil menggunakan Taser pada Brooks dan kedua petugas kemudian berlari ke bingkai kamera.

Suara tembakan kemudian dapat terdengar dan Brooks terlihat di tanah.

Ia dibawa ke rumah sakit tapi kemudian meninggal. Salah seorang petugas dirawat karena cedera akibat insiden itu.

Kantor Kejaksaan Distrik Fulton melakukan penyelidikan terpisah terhadap insiden itu, kata lembaga itu dalam sebuah pernyataan.

Pengacara yang mewakili keluarga Brooks mengatakan bahwa petugas kepolisian tidak berhak untuk menggunakan kekuatan mematikan, dengan mengatakan Taser yang diambil oleh Brooks adalah senjata yang tidak mematikan.

“Anda tidak bisa menembak seseorang kecuali mereka menodongkan pistol kepada Anda,” kata pengacara Chris Stewart.

Brooks seharusnya membawa putrinya yang berusia delapan tahun bermain selancar pada hari Sabtu untuk merayakan hari ulang tahunnya, kata pengacara yang mewakili keluarganya.

Ini adalah kasus penembakan ke-48 yang melibatkan petugas polisi yang diselidiki oleh Biro Investigasi Georgia tahun ini, menurut ABC News. Dari kasus-kasus itu, 15 di antaranya berakibat fatal.

Sejumlah pengunjuk rasa berkumpul di luar restoran tempat kejadian pada hari Jumat, menurut surat kabar New York Times.

Protes kemudian dimulai lagi di pusat kota Atlanta pada hari Sabtu. Gambar-gambar dari demonstrasi menunjukkan para demonstran mengangkat papan bertuliskan nama Brooks dan Black Lives Matter.

Insiden ini terjadi saat orang-orang di Atlanta mengadakan aksi protes menyusul kematian George Floyd. Ia meninggal pada 25 Mei setelah seorang petugas polisi Minneapolis berlutut di lehernya selama lebih dari delapan menit. Si petugas telah dipecat dan didakwa dengan pembunuhan tingkat dua.

Tuntutan reformasi

Demonstrasi telah terjadi di berbagai daerah di AS dan di seluruh dunia sejak kematian Floyd. Banyak orang di AS menuntut supaya kepolisian direformasi.

Di Minneapolis, tempat Floyd meninggal, dewan kota mengeluarkan resolusi pada hari Jumat untuk mengganti departemen kepolisian dengan sistem keamanan publik yang dipimpin masyarakat.

Dewan mengatakan akan memulai proses selama setahun untuk berbicara “dengan setiap anggota masyarakat yang bersedia di Minneapolis” demi menghasilkan model keselamatan publik baru.

Di New York, Gubernur Andrew Cuomo memerintahkan departemen kepolisian untuk melakukan reformasi besar. Ia juga mengatakan akan berhenti membiayai pemerintah daerah yang gagal mengadopsi reformasi untuk mengatasi penggunaan kekuatan berlebihan dan bias di departemen kepolisian pada April mendatang.

Presiden Donald Trump mengatakan pada hari Jumat bahwa teknik tekan leher (chokehold) untuk menahan beberapa tersangka “secara umum” harus diakhiri.

Ia menunda kampanye Pilpres pascakarantina wilayah pertamanya di Tulsa, Oklahoma sehingga tidak jatuh pada 19 Juni, tanggal yang memperingati berakhirnya perbudakan AS.

Trump memindahkan reli tersebut ke tanggal 20, setelah dikritik. Lokasi itu juga kontroversial, karena merupakan tempat salah satu pembantaian ras terburuk dalam sejarah AS yang terjadi pada tahun 1921. (BBC Indonesia)

Pos terkait