Ia kemudian membuat perumpamaan sederhana. “Kalau pohon jagung mati, apa salah petaninya? Bisa karena tanah, bisa karena pupuk. Sama halnya dengan dokter. Tidak bisa semua kematian ditimpakan kepada mereka,” ungkapnya.
Kritik ke Kepala Daerah dan Dinas
Dalam kesempatan itu, Hidayat juga melontarkan kritik tajam kepada sejumlah pejabat daerah. Menurutnya, kepala dinas, wali kota, maupun bupati harus berani melindungi para tenaga medis.
“Celakanya, kepala dinas penakut, wali kota penakut, bupati penakut. Dokter itu harus dilindungi. Profesi mereka sangat mulia,” kata Hidayat.
Ia menegaskan, rumah sakit baik swasta maupun pemerintah harus bersatu untuk memberikan pelayanan terbaik dan menjamin mutu kesehatan bagi masyarakat. Pemerintah, lanjutnya, mesti hadir untuk mendukung tenaga medis, bukan justru melemahkan.
Pentingnya Profesionalisme dan Solidaritas
Hidayat juga menyoroti perlunya pembenahan sistem manajemen rumah sakit. Ia menekankan bahwa tenaga kesehatan harus dipilih sesuai kompetensi akademik, bukan berdasarkan kedekatan atau kepentingan tertentu.
“Kita harus duduk bersama, memikirkan dokter-dokter yang tengah malam harus operasi. Jangan sampai dokter jaga ditunjuk asal-asalan. Semua harus sesuai akademis, bukan suka-suka,” tegasnya.
Ia menyinggung kasus viral salah seorang dokter yang dinilai tidak mendapat pembelaan dari atasannya. “Kalau ada dokter bermasalah, jangan langsung lempar tanggung jawab. Kepala dinas harus berdiri di depan, melindungi,” katanya menambahkan.
Lebih jauh, Gubernur menilai adanya senioritas berlebihan di dunia medis justru mengorbankan masyarakat. Menurutnya, dokter senior seharusnya membimbing junior dengan etika dan profesionalisme, bukan malah menekan.
“Bagaimana Singapura bisa maju? Karena mereka melayani dengan ikhlas, beretika, dan akademis. Itu yang harus kita tiru,” jelasnya.
Pengalaman Pribadi Membangun Rumah Sakit
Dalam sambutannya, Hidayat juga mengisahkan perjalanan pribadinya membangun tiga rumah sakit di Bangka Belitung dengan nilai investasi ratusan miliar rupiah pada 15 tahun lalu.
Ia mengaku keberhasilannya justru lahir dari pengalaman pahit ketika sering ditipu oleh oknum dokter dalam pengadaan obat maupun layanan medis.
“Saya bisa berhasil justru karena sering ditipu dokter. Kalau tidak ditipu, saya tidak akan belajar dan tidak akan pintar. Itu kenyataan,” ucapnya jujur.














