Seminar PERSI Babel, Gubernur Tegaskan: Tangan Dokter Penyelamat, Bukan Alat Pidana

Ia menambahkan, keberaniannya membangun rumah sakit berasal dari tekad menolong masyarakat, bukan semata urusan bisnis.

“Saya nekat bangun rumah sakit karena ingin menolong orang. Tengah malam ada pasien kecelakaan, kalau tidak ada CT Scan, bagaimana? Waktu itu harganya Rp9 miliar, saya putuskan beli demi masyarakat,” kenangnya.

Menurutnya, rumah sakit bukan sekadar bisnis, melainkan institusi yang harus berdiri atas dasar kemanusiaan. “Kalau dokter dan manajemen hanya mengejar keuntungan, pasien akan enggan datang. Padahal rumah sakit ada untuk melayani,” ujarnya.

Ajakan Kolaborasi dan Reformasi

Di penghujung sambutan, Hidayat mengajak semua pihak—dokter, manajemen rumah sakit, pemerintah daerah, hingga masyarakat—untuk bergandengan tangan menghadapi perubahan regulasi di tahun 2025.

Ia menekankan pentingnya reformasi pelayanan kesehatan yang berlandaskan etika, akademis, dan profesionalisme.

“Jangan ada lagi kepentingan yang menekan dokter atau rumah sakit. Kita harus ikhlas melayani masyarakat. Dengan begitu, dunia kesehatan di Babel bisa maju,” pungkasnya.

Seminar PERSI Babel ini diharapkan menjadi momentum penting bagi seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan introspeksi dan menyusun strategi menghadapi tantangan baru di bidang kesehatan, khususnya terkait regulasi yang semakin kompleks.

Dengan pesan tegas namun penuh pengalaman hidup, Gubernur Hidayat Arsani menegaskan bahwa keberanian melindungi profesi dokter serta kesungguhan membangun manajemen rumah sakit yang sehat adalah kunci utama bagi kemajuan pelayanan kesehatan di Kepulauan Bangka Belitung. (KBO Babel)