24 Peserta dari 8 Provinsi Ikut Tilawah Bahasa Isyarat di MTQ Nasional 2026

JurnalPatroliNews | Jakarta — Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam menyiapkan rangkaian kegiatan keagamaan dalam momentum Maulid Nabi Muhammad SAW. Salah satu agenda utamanya adalah Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-31 yang akan berlangsung di Semarang, Jawa Tengah, pada 10–20 September 2026.

Selain agenda utama MTQ, Kemenag menghadirkan terobosan dengan membuka eksibisi cabang baru berupa tilawah Al-Qur’an menggunakan bahasa isyarat.

Program tersebut menjadi perhatian karena memberikan ruang yang lebih luas bagi penyandang disabilitas, khususnya komunitas Muslim Tuli, untuk tampil dalam ajang tingkat nasional.

Dirjen Bimas Islam Kemenag Abu Rokhmad mengatakan MTQ Nasional menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Blissful Mawlid yang digelar untuk menyemarakkan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

“Alhamdulillah ini dalam rangka menyemarakkan bulan Maulid, kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Bimas Islam bersama dengan seluruh direktur di Direktorat Bimas Islam menyelenggarakan event Blissful Mawlid yang terdiri dari beberapa kegiatan,” ujar Abu di Kantor Kemenag, Jakarta, Selasa (1/9/2026).

Salah satu kegiatan tersebut adalah MTQ Nasional ke-31 di Semarang.

“Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran Nasional yang ke-31 di Semarang tanggal 10 sampai dengan tanggal 20 September 2026,” sambungnya.

Tilawah Bahasa Isyarat Jadi Cabang Eksibisi

Direktur KUA Ditjen Bimas Islam Kemenag Ahmad Zayadi menjelaskan bahwa MTQ Nasional tahun ini menghadirkan eksibisi cabang baru berupa lomba tilawah Al-Qur’an bahasa isyarat.

“Untuk tahun 2026 ini pada MTQ Nasional ke-31, kita akan menggelar eksibisi untuk cabang lomba baru, yaitu lomba tilawah Al-Qur’an bahasa isyarat,” ujar Zayadi.

Menurut dia, eksibisi tersebut diikuti 24 peserta dari 14 komunitas yang tersebar di delapan provinsi.

Program tersebut menjadi langkah penting dalam memperluas ruang partisipasi pada ajang MTQ nasional.

Untuk pertama kalinya, pembacaan atau tilawah menggunakan Mushaf Al-Qur’an isyarat dimusabaqahkan dalam rangkaian MTQ tingkat nasional.

“Jadi ini untuk pertama kalinya pembacaan atau tilawah Mushaf Al-Qur’an isyarat dimusabaqahkan, dilombakan,” kata Zayadi.

Dibangun untuk Komunitas Muslim Tuli

Kemenag menjelaskan, penyelenggaraan eksibisi tersebut berkaitan dengan semakin luasnya sosialisasi Mushaf Al-Qur’an Standar Isyarat kepada komunitas Tuli Muslim.

Zayadi mengatakan mushaf tersebut telah ditetapkan oleh Menteri Agama pada 2022 dan kemudian disosialisasikan kepada masyarakat.

“Setelah ditetapkannya Mushaf Al-Qur’an standar oleh Menteri Agama tahun 2022, dan mushaf ini sudah tersosialisasi dengan baik di tengah kalangan Tuli muslim, maka setelah empat tahun itu kita akan ikutkan dalam event Musabaqah Tilawatil Quran tingkat nasional,” jelasnya.

Kehadiran eksibisi tersebut menunjukkan bahwa penyelenggaraan kegiatan keagamaan nasional mulai memberikan ruang lebih besar bagi kelompok penyandang disabilitas.

Bagi komunitas Muslim Tuli, kesempatan tersebut bukan hanya mengenai kompetisi, tetapi juga pengakuan atas kemampuan mereka dalam mempelajari dan menyampaikan nilai-nilai Al-Qur’an dengan metode yang sesuai.

MTQ Nasional Jadi Ruang Inklusivitas

MTQ selama ini identik dengan perlombaan tilawah, hafalan dan seni membaca Al-Qur’an.

Namun, hadirnya cabang eksibisi bahasa isyarat memperluas makna tersebut.

Kegiatan keagamaan dapat menjadi ruang yang lebih inklusif dengan membuka kesempatan bagi masyarakat dengan kebutuhan komunikasi yang berbeda.

Keikutsertaan 24 peserta dari 14 komunitas juga menunjukkan bahwa minat terhadap tilawah bahasa isyarat telah berkembang di sejumlah daerah.

Delapan provinsi menjadi bagian dari eksibisi nasional tersebut.

Kemenag berharap kegiatan tersebut dapat menjadi pijakan untuk pengembangan cabang serupa pada masa mendatang.

Rangkaian Maulid Tak Berhenti di MTQ

Selain MTQ Nasional, Kemenag juga menyiapkan agenda lain dalam rangka memperingati Maulid Nabi.

Salah satunya adalah nikah massal yang akan berlangsung pada 5–6 September 2026 di Istora Senayan, Jakarta.

Kegiatan tersebut ditargetkan diikuti 100 pasangan.

Abu Rokhmad mengatakan panitia juga menyiapkan sejumlah fasilitas dan apresiasi bagi pasangan yang mengikuti kegiatan tersebut.

“Tadi disampaikan oleh Pak Direktur saya kira cukup menarik mahar yang disediakan oleh panitia, ada tabungan yang juga disiapkan oleh panitia, dan ada cinderamata juga,” kata Abu.

Kemenag Buka Kesempatan bagi Warga Jabodetabek

Abu juga mengajak masyarakat di wilayah Jabodetabek yang berencana menikah untuk memanfaatkan kegiatan tersebut.

Menurutnya, masih tersedia waktu bagi pasangan yang berminat untuk melakukan koordinasi dengan Kantor Urusan Agama (KUA) di wilayah masing-masing.

“Kami berharap mbak-mbak, mas-mas yang di sekitar Jabodetabek yang berkeinginan untuk menyempurnakan agamanya melalui pernikahan, saya kira masih ada waktu untuk kita sambut,” ujarnya.

Ia mengajak calon pasangan mendatangi KUA di sekitar tempat tinggal untuk memperoleh informasi mengenai persyaratan dan mekanisme mengikuti kegiatan tersebut.

Satu Rangkaian, Dua Pesan Besar

Rangkaian Blissful Mawlid yang disiapkan Kemenag membawa dua pesan sekaligus.

MTQ Nasional menjadi ruang penguatan kecintaan terhadap Al-Qur’an dan sekaligus membuka ruang partisipasi yang lebih inklusif.

Sementara nikah massal menjadi bagian dari fasilitasi masyarakat yang ingin membangun kehidupan keluarga melalui perkawinan yang sah.

Keduanya dikemas dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Dengan demikian, agenda Kemenag tidak berhenti pada kegiatan seremonial keagamaan.

Kehadiran tilawah bahasa isyarat memberikan dimensi berbeda karena kelompok Muslim Tuli mendapatkan ruang untuk berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan pada tingkat nasional.

Menanti MTQ Nasional ke-31

Semarang akan menjadi pusat perhatian ketika MTQ Nasional ke-31 berlangsung pada 10–20 September 2026.

Selain mempertandingkan cabang-cabang MTQ yang telah ada, tahun ini terdapat eksibisi tilawah Al-Qur’an bahasa isyarat yang diikuti 24 peserta dari berbagai komunitas.

Bagi Kemenag, langkah tersebut dapat menjadi awal pengembangan penyelenggaraan MTQ yang semakin inklusif.

Sementara bagi peserta, panggung nasional tersebut menjadi kesempatan menunjukkan bahwa keterbatasan dalam komunikasi tidak menjadi penghalang untuk mendalami Al-Qur’an.

Di Jakarta, rangkaian kegiatan Maulid juga dilanjutkan melalui nikah massal pada 5–6 September dengan target 100 pasangan.

Dua agenda tersebut memperlihatkan bahwa rangkaian kegiatan Kemenag dalam momentum Maulid Nabi tidak hanya berorientasi pada kegiatan keagamaan formal, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan inklusivitas.

MTQ Nasional ke-31 akhirnya tidak hanya menjadi ajang perlombaan membaca Al-Qur’an.

Dengan hadirnya tilawah bahasa isyarat, ajang tersebut juga menjadi simbol bahwa ruang keagamaan nasional semakin terbuka bagi semua kalangan, termasuk komunitas Muslim Tuli.

Komentar