Alarm Keamanan Pangan MBG Berbunyi, 300 Porsi Ayam Rempah Tak Jadi Dibagikan

JurnalPatroliNews | Karanganyar — Upaya memastikan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) layak dikonsumsi menjadi perhatian serius setelah Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jati, Desa Jati, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Abra Yodha Raya, mengalami mual, muntah dan pusing usai mencicipi menu ayam rempah.

Peristiwa tersebut terjadi pada 12 Agustus 2026. Abra mengaku mencicipi makanan setelah menerima laporan dari tim dapur mengenai aroma yang dinilai tidak biasa.

Langkah mencicipi dilakukan sebelum makanan didistribusikan kepada penerima manfaat. Menu yang dicurigai tersebut merupakan bagian dari batch kedua yang disiapkan untuk 300 penerima.

“Saya dapat laporan dari dapur, dari chef-nya bilang. Pak ini coba dirasakan sama dibau, ini kalau dari saya ada agak aneh’. Ahli gizi juga sudah merasakan, laporan ke saya, terus saya turun tangan,” kata Abra, Sabtu (12/9/2026).

Satu Orang Alami Gejala

Abra mengatakan sekitar 10 orang ikut mencicipi makanan tersebut, termasuk dirinya, petugas pengolahan dan ahli gizi.

Namun, dari sejumlah orang yang mencicipi, hanya Abra yang mengaku mengalami gejala berupa mual, muntah dan pusing.

“Saya muntah-muntah, mual, dan pusing. Yang mencicipi ada saya, bagian pengolahan juga ikut semua, ada ahli gizi, jadi sekitar 10 orang. Hanya saya yang keracunan,” ujarnya.

Meski menggunakan istilah “keracunan”, penyebab medis keluhan tersebut belum dapat dipastikan hanya berdasarkan gejala yang dialaminya.

Abra juga mengakui terdapat aroma yang dianggap tidak normal pada bagian dalam lauk ayam tersebut. Ia menduga kondisi fisiknya yang kelelahan dan padat aktivitas juga bisa menjadi salah satu faktor yang membuat tubuhnya bereaksi.

300 Porsi Tak Sampai ke Penerima

Hal yang menjadi perhatian dalam peristiwa ini adalah keputusan SPPG untuk tidak meneruskan menu yang dicurigai kepada penerima manfaat.

Abra menyebut sebanyak 300 porsi yang telah disiapkan kemudian ditarik kembali sebagai langkah antisipasi.

“Sebanyak 300 porsi yang sudah dibagikan ditarik kembali. Hal itu dilakukan sebagai bentuk antisipasi dari SPPG. Tidak sampai ada korban pada siswa. Itu untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” kata Abra.

Keputusan tersebut membuat menu ayam rempah yang dinilai bermasalah tidak sampai dikonsumsi oleh para siswa penerima MBG.

Dalam program makanan massal, langkah pencegahan seperti penahanan atau penarikan makanan sebelum dikonsumsi menjadi penting ketika terdapat indikasi adanya persoalan pada makanan.

Aroma Makanan Jadi Alarm Awal

Peristiwa di SPPG Jati juga memperlihatkan pentingnya kontrol kualitas sejak makanan masih berada di dapur.

Laporan mengenai aroma makanan yang dianggap mencurigakan menjadi alarm awal sebelum makanan didistribusikan. Tim kemudian melakukan pemeriksaan dan pencicipan sebagai bagian dari langkah memastikan makanan yang akan dibagikan berada dalam kondisi layak.

Namun, pemeriksaan organoleptik seperti bau dan rasa tentu bukan satu-satunya parameter untuk memastikan keamanan pangan.

Diperlukan pengawasan terhadap proses pengolahan, penyimpanan bahan baku, kebersihan peralatan, suhu penyimpanan hingga distribusi makanan agar potensi masalah dapat ditekan.

Kehati-hatian Jadi Kunci Program MBG

Program MBG melibatkan produksi dan distribusi makanan dalam jumlah besar setiap hari. Karena itu, persoalan keamanan pangan memiliki konsekuensi luas apabila terjadi kesalahan dalam satu tahapan proses.

Kasus di SPPG Jati menunjukkan bahwa kewaspadaan tidak hanya diperlukan ketika makanan sudah sampai di tangan penerima manfaat, tetapi sejak bahan makanan masuk ke dapur.

Ketika ditemukan perubahan aroma, warna, tekstur atau kondisi lain yang dianggap tidak normal, makanan seharusnya terlebih dahulu diperiksa sebelum didistribusikan.

Langkah menarik kembali 300 porsi dalam kasus ini setidaknya mencegah potensi masalah meluas kepada penerima manfaat.

Evaluasi Tetap Diperlukan

Di sisi lain, peristiwa tersebut menjadi bahan evaluasi penting bagi pengelola SPPG.

Dugaan masalah pada makanan perlu ditelusuri berdasarkan proses pengadaan bahan baku, penyimpanan, pengolahan dan distribusi. Dengan demikian, penyebabnya dapat diketahui dan tidak sekadar berhenti pada dugaan berdasarkan aroma atau keluhan seseorang setelah mencicipi.

Keterangan mengenai kondisi Abra juga perlu dibedakan dengan kesimpulan bahwa makanan tersebut telah terbukti menyebabkan keracunan. Sejauh informasi yang disampaikan, hanya Abra yang mengalami gejala setelah mencicipi, sementara penyebab pastinya belum disebutkan.

Namun, keputusan untuk menarik 300 porsi menjadi langkah preventif yang penting.

Bagi pelaksanaan MBG, prinsipnya sederhana tetapi krusial: lebih baik makanan ditahan ketika ada keraguan daripada risiko kesehatan baru diketahui setelah makanan dikonsumsi penerima manfaat.

Peristiwa di SPPG Jati pun menjadi pengingat bahwa keberhasilan program MBG bukan hanya ditentukan oleh jumlah makanan yang berhasil dibagikan, tetapi juga oleh kepastian bahwa makanan tersebut aman, layak dan memenuhi standar sebelum sampai ke meja penerima.

Komentar