JurnalPatroliNews – Jakarta – Pemerintah Tiongkok resmi memperketat aturan teknis bagi kendaraan energi baru (New Energy Vehicle/NEV) yang ingin mendapatkan insentif pajak pembelian pada periode 2026–2027.
Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi, Kementerian Keuangan, serta Administrasi Perpajakan Negara Tiongkok mengumumkan kebijakan baru tersebut pada Rabu (9/10/2025). Salah satu poin utama adalah peningkatan standar jarak tempuh minimal kendaraan listrik murni menjadi 100 kilometer.
Penyesuaian ini berlaku khusus untuk mobil hibrida plug-in (Plug-in Hybrid Electric Vehicle/PHEV) yang sebelumnya hanya diwajibkan menempuh jarak 43 kilometer dalam mode listrik.
“Penyesuaian ini sejalan dengan kemajuan pesat teknologi kendaraan energi baru, terutama peningkatan daya jelajah dan efisiensi baterai. Langkah ini memastikan kebijakan pemerintah tetap relevan dengan perkembangan teknologi,” ujar Cui Dongshu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Mobil Penumpang Tiongkok, dikutip dari media lokal NBD.
Cui menambahkan, peningkatan ambang batas teknis ini bertujuan mendorong produsen kendaraan meningkatkan investasi riset dan pengembangan (litbang), sekaligus menyingkirkan produk yang tidak efisien agar industri otomotif nasional beralih ke pengembangan berkualitas tinggi.
Berikut sejumlah perubahan teknis utama yang diberlakukan:
- Konsumsi energi kendaraan tidak boleh melebihi batas dalam standar nasional baru GB 36980.1-2025, yang sekitar 11% lebih ketat dibandingkan aturan sebelumnya.
- Kendaraan penumpang dengan berat di atas 3.500 kg mengikuti standar konsumsi energi untuk kendaraan sejenis.
- Untuk kendaraan hibrida plug-in (PHEV):
- Jarak tempuh listrik murni ditingkatkan dari 43 km menjadi minimal 100 km.
- Konsumsi bahan bakar harus kurang dari 70% dari batas standar bagi kendaraan berbobot di bawah 2.510 kg.
- Untuk kendaraan di atas 2.510 kg, konsumsi bahan bakar maksimal 75% dari batas standar.
- Konsumsi energi listrik harus kurang dari 140–145% dari batas standar, tergantung berat kendaraan.
Kebijakan baru ini diharapkan mendorong produsen untuk menghadirkan kendaraan yang lebih efisien, ramah lingkungan, serta memiliki daya jelajah lebih jauh — sejalan dengan target Tiongkok menjadi pemimpin global dalam transisi menuju mobilitas hijau.














