BMKG Tetapkan 20 Wilayah Jateng Waspada Kekeringan, Ini Daftar Lengkapnya

JurnalPatroliNews | Semarang – Ancaman kekeringan meteorologis masih membayangi sejumlah wilayah di Jawa Tengah. Berdasarkan data yang dikutip dalam laporan BMKG, sebanyak 20 kabupaten/kota di provinsi tersebut masuk kategori waspada kekeringan meteorologis pada dasarian ketiga Oktober 2026.

Kondisi ini terjadi setelah curah hujan di seluruh wilayah Jawa Tengah pada periode 11–20 Oktober 2026 tercatat berada dalam kategori rendah, yakni berkisar 0–50 milimeter per dasarian. Di sejumlah daerah, periode hari tanpa hujan (HTH) bahkan telah berlangsung lebih dari 60 hari.

Meski demikian, laporan tersebut menyebut tidak ada kabupaten/kota di Jawa Tengah yang berada pada status siaga maupun awas kekeringan meteorologis pada periode yang sama. Masyarakat tetap perlu memantau perkembangan informasi cuaca, terutama di wilayah yang mengalami kekeringan berkepanjangan.

Daftar 20 Daerah Waspada Kekeringan

Dua puluh kabupaten/kota yang disebut masuk kategori waspada kekeringan meteorologis pada dasarian ketiga Oktober 2026 meliputi:

  1. Kota Pekalongan
  2. Kota Semarang
  3. Kabupaten Pemalang
  4. Kabupaten Pekalongan
  5. Kabupaten Batang
  6. Kabupaten Kendal
  7. Kabupaten Temanggung
  8. Kabupaten Semarang
  9. Kabupaten Demak
  10. Kabupaten Jepara
  11. Kabupaten Kudus
  12. Kabupaten Pati
  13. Kabupaten Rembang
  14. Kabupaten Grobogan
  15. Kabupaten Blora
  16. Kabupaten Boyolali
  17. Kabupaten Klaten
  18. Kabupaten Kebumen
  19. Kabupaten Purworejo
  20. Kabupaten Wonogiri

Status waspada ini menjadi perhatian bagi masyarakat yang bergantung pada air hujan untuk kebutuhan sehari-hari maupun kegiatan pertanian. Jika hujan belum kembali turun secara memadai, ketersediaan air di wilayah terdampak berpotensi semakin terbatas.

Hari Tanpa Hujan Lebih dari 60 Hari

Pemantauan hari tanpa hujan hingga 20 Oktober 2026 menunjukkan adanya wilayah di Jawa Tengah yang mengalami periode kering sangat panjang. Dalam laporan yang menjadi dasar naskah ini, HTH lebih dari 60 hari disebut tersebar di berbagai wilayah, dengan kategori sangat panjang mendominasi kawasan selatan Jawa Tengah.

Sementara itu, kategori HTH panjang selama 21–30 hari terpantau di sejumlah titik wilayah timur dan Kabupaten Brebes. Periode tanpa hujan menengah, yakni 11–20 hari, dilaporkan tersebar di hampir seluruh wilayah.

Di kawasan utara, kategori HTH pendek selama 6–10 hari disebut mendominasi, sedangkan periode tanpa hujan 1–5 hari terpantau di beberapa titik wilayah tengah.

Lamanya hari tanpa hujan menjadi salah satu indikator penting untuk memantau perkembangan kekeringan meteorologis. Namun, kondisi kekeringan di suatu wilayah juga dipengaruhi faktor lain, termasuk karakteristik daerah, ketersediaan sumber air, dan kebutuhan masyarakat.

Peluang Hujan pada November 2026

Di tengah kondisi kering yang masih terjadi, prakiraan BMKG dalam naskah tersebut menunjukkan peluang peningkatan curah hujan di sebagian wilayah Jawa Tengah pada periode berikutnya.

Sebagian besar wilayah diprakirakan berpeluang mengalami curah hujan kategori menengah. Adapun potensi curah hujan tinggi, sekitar 151–200 milimeter per dasarian, disebut berpeluang terjadi di bagian utara Kabupaten Banyumas dan Purbalingga serta bagian selatan Kabupaten Batang.

Pada dasarian ketiga November 2026, atau periode 21–30 November, peluang curah hujan tinggi dengan kisaran 151–300 milimeter per dasarian diprakirakan meluas ke sebagian besar wilayah Purbalingga, Banjarnegara, bagian utara Banyumas, serta sejumlah wilayah lainnya.

Meski demikian, prakiraan hujan tidak berarti seluruh wilayah akan menerima curah hujan yang sama. Masyarakat dan pemerintah daerah tetap perlu menyesuaikan langkah antisipasi dengan kondisi setempat dan pembaruan informasi resmi BMKG.

Masyarakat Diminta Memperhatikan Ketersediaan Air

Perbedaan durasi hari tanpa hujan dan peluang curah hujan antardaerah membuat pemantauan kondisi setempat menjadi penting. Masyarakat dapat mengantisipasi kebutuhan air dengan menggunakan persediaan secara bijak, sementara pemerintah daerah dapat mengevaluasi kondisi sumber air dan kebutuhan warga di wilayah yang terdampak.

Bagi sektor pertanian, informasi cuaca dan prakiraan curah hujan juga penting sebagai bahan pertimbangan dalam mengatur kebutuhan irigasi serta menentukan langkah mitigasi risiko kekeringan.

Perkembangan kondisi meteorologis di Jawa Tengah masih perlu dicermati, terutama menjelang periode prakiraan hujan pada November 2026. Warga diimbau mengikuti informasi terbaru dari BMKG dan instansi terkait agar langkah antisipasi dapat dilakukan sesuai kondisi wilayah masing-masing.

Komentar