Budi Mulyawan Desak Penataan Total Perfilman Indonesia Lewat Jakarta Millennial Film Festival 2026

Kondisi tersebut, lanjutnya, berdampak langsung pada mayoritas pegiat film Indonesia yang hingga kini masih berjuang mendapatkan akses pendanaan dan distribusi. Banyak sineas muda yang memiliki kapasitas dan kreativitas tinggi, namun terhambat oleh keterbatasan ekosistem.

“Talenta kita banyak, bahkan luar biasa. Tapi mereka sering kali berhenti di tengah jalan karena tidak ada dukungan sistem yang memadai. Ini yang harus kita benahi bersama,” kata Budi.

Sebagai bentuk kontribusi nyata dalam membangun ekosistem yang lebih sehat, Jaya Center Foundation akan kembali menggelar Jakarta Millennial Film Festival (JMFF) 2026 untuk wilayah Jawa dan Bali. Festival yang merupakan penyelenggaraan kedua ini akan berlangsung dari April hingga Agustus 2026 dengan rangkaian kegiatan berupa workshop dan kompetisi film pendek.

Pembukaan festival dijadwalkan pada 19 Juni 2026 di Gedung Kesenian Jakarta, sementara malam puncak penganugerahan akan digelar pada Agustus 2026 di Jakarta International Velodrome, Rawamangun, Jakarta Timur, bertepatan dengan momentum peringatan HUT ke-499 Kota Jakarta dan Dirgahayu ke-81 Republik Indonesia.

Mengusung tema “Millennial dan Bela Negara” dengan subtema film nasional sebagai media perjuangan bangsa, festival ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran generasi muda akan peran strategis film dalam pembangunan nasional. Budi menekankan bahwa film harus dilihat sebagai instrumen perjuangan modern yang mampu membentuk opini, karakter, dan identitas bangsa.

“Kami ingin generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tapi juga pelaku yang sadar bahwa film bisa menjadi bagian dari bela negara dalam konteks kekinian,” ujarnya.

Peserta festival ini terbuka bagi pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum di wilayah Jawa dan Bali, dengan harapan dapat menjadi ruang inklusif bagi lahirnya talenta-talenta baru. Dalam pandangan Budi, penguatan sumber daya manusia menjadi salah satu kunci utama dalam membangun industri film yang berdaya saing global.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, komunitas, swasta, dan lembaga pendidikan dalam menciptakan ekosistem yang sehat dan berkelanjutan.

Di tengah capaian positif seperti meningkatnya pangsa penonton film Indonesia yang telah mencapai sekitar 61 persen, Budi mengingatkan agar euforia tersebut tidak menutupi persoalan struktural yang masih ada.

Ia menilai bahwa masyarakat sebenarnya sudah menjadikan film sebagai kebutuhan, baik dalam konteks hiburan maupun informasi, namun dukungan terhadap industri belum maksimal.

“Publik kita sudah siap dan bahkan antusias. Yang belum siap adalah sistemnya. Kalau ini tidak segera dibenahi, kita hanya akan menjadi pasar besar bagi film asing di negeri sendiri,” tambahnya.

Sebagai penutup, dalam rangka kongres Badan Perfilman Indonesia (BPI) ke-4, Budi Mulyawan menyampaikan harapan terhadap ketua umum dan pengurus BPI terpilih agar dapat memajukan perfilman nasional.

“Semoga dalam kongres ke 4 BPI (April 2026), terpilih Ketua Umum dan kepengurusan BPI yg dapat memajukan Perfilman Indonesia secara utuh. Selamat berkongres,” tutupnya.