JurnalPatroliNews | Bandung — Kementerian Koperasi (Kemenkop) memperkuat kapasitas sumber daya manusia (SDM) pengurus Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDKMP) melalui program magang berbasis praktik langsung di koperasi yang dinilai berhasil mengembangkan model bisnis sesuai potensi daerah.
Program tersebut salah satunya dilaksanakan di Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Al-Ittifaq, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dengan fokus pada sektor pertanian. Kegiatan ini diarahkan agar pengurus KDKMP tidak hanya memahami teori perkoperasian, tetapi mampu melihat, mengelola, dan mereplikasi model bisnis yang relevan dengan potensi desa masing-masing.
Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi Kemenkop Destry Anna Sari mengatakan pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memfasilitasi pendampingan, edukasi, dan pelatihan bagi para pengurus serta pengelola KDKMP.
Menurutnya, pembinaan harus mampu menumbuhkan rasa memiliki terhadap koperasi sebagai usaha bersama yang keberhasilannya juga menjadi kepentingan seluruh anggota.
“Loyalitas tumbuh dari pemahaman bahwa keberhasilan koperasi adalah keberhasilan seluruh anggota,” kata Destry saat membuka Pelaksanaan Magang bagi Pengurus KDKMP Sektor Pertanian di Kopontren Al-Ittifaq, Kabupaten Bandung, Minggu (23/8/2026).
Dalam kegiatan tersebut turut hadir Tenaga Ahli Utama Deputi II Kantor Staf Presiden (KSP) Guruh Muamar Khadafi, Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Provinsi Jawa Barat Yuke Mauliani Septina, serta Ketua Kopontren Al-Ittifaq Setia Irawan.
Destry menilai KDKMP membutuhkan SDM yang mampu melihat peluang jangka panjang dan tidak sekadar mengejar keuntungan dalam waktu singkat.
Para pengurus, kata dia, harus mampu membaca potensi ekonomi lokal dan mengubahnya menjadi kegiatan usaha yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Selain itu, pengurus wajib mengenali potensi lokal dan mengubahnya menjadi usaha yang relevan, seperti pengolahan hasil pertanian, pemasaran secara digital, hingga menjalin kemitraan strategis,” ujarnya.
Program magang tersebut menjadi salah satu strategi Kemenkop untuk mempercepat operasionalisasi KDKMP yang telah terbentuk di berbagai daerah.
Peserta ditempatkan di dua koperasi yang dipilih sebagai lokasi pembelajaran, yakni Kopontren Al-Ittifaq di Bandung untuk sektor pertanian dan Kopontren Sunan Drajat di Lamongan untuk sektor usaha.
Di Al-Ittifaq, peserta dapat melihat secara langsung bagaimana sistem pertanian terpadu dijalankan mulai dari produksi, manajemen hingga pemasaran. Sistem agribisnis koperasi tersebut juga telah terhubung dengan pasar modern sehingga peserta memperoleh gambaran mengenai rantai nilai usaha dari hulu hingga hilir.
Selain aspek bisnis, model pemberdayaan masyarakat dan santri yang diterapkan Al-Ittifaq menjadi bagian lain yang dipelajari peserta.
“Magang di sini membantu pengurus mengembangkan kompetensi utama, yaitu budidaya pertanian, kewirausahaan, manajemen hasil panen, serta kedisiplinan dan kemandirian,” kata Destry.
Sementara di Kopontren Sunan Drajat, peserta akan mempelajari pengembangan usaha berbasis desa yang menggabungkan pemberdayaan santri dan masyarakat dengan transformasi digital.
Model tersebut antara lain diterapkan melalui pengembangan UMKM berbasis Santripreneur, bisnis ritel, serta pemanfaatan teknologi untuk memperluas jangkauan pasar.
Kopontren Sunan Drajat memiliki berbagai bidang usaha yang dikelola secara profesional, mulai dari perdagangan, perhotelan, restoran, manufaktur dan produksi, pangan, jasa keuangan dan pembiayaan syariah, hingga pertanian dan hortikultura.
Menurut Destry, pengalaman di dua lokasi tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan belajar, tetapi menjadi bekal nyata bagi pengurus untuk membangun usaha koperasi yang sesuai dengan karakter daerahnya masing-masing.
“Kegiatan magang diharapkan lebih dari sekadar mempelajari hal-hal yang sudah ada. Peserta tidak hanya menumbuhkan semangat berusaha, tetapi juga memahami model bisnis dan cara membangun usaha yang berkelanjutan untuk direplikasi di desanya masing-masing,” harapnya.
Kemenkop juga menjadwalkan program magang bagi pengurus KDKMP sektor serba usaha dan pertanian selama delapan hari, yakni 23–30 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut diikuti 90 pengurus KDKMP, terdiri atas 54 peserta sektor serba usaha dan 36 peserta sektor pertanian.
Tenaga Ahli Utama Deputi II KSP Guruh Muamar Khadafi mengapresiasi Kemenkop, Kopontren Al-Ittifaq, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, serta seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program tersebut.
“Kami berharap, hasil magang menjadi bekal agar KDKMP di desa-desa tumbuh sehat, produktif, profesional, dan bermanfaat nyata bagi masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Provinsi Jawa Barat Yuke Mauliani Septina menilai peningkatan kapasitas SDM dan penguatan model bisnis menjadi fondasi penting untuk keberhasilan KDKMP.
“Pengurus koperasi tidak boleh hanya memahami aspek kelembagaan dan administrasi. Lebih dari itu, pengurus harus mampu membaca potensi ekonomi wilayah, membangun usaha sesuai kebutuhan masyarakat, mengelola rantai pasok, menjaga kualitas produk, serta membuka dan mempertahankan akses pasar,” ujarnya.
Melalui program magang tersebut, Kemenkop berharap KDKMP dapat berkembang sebagai lembaga ekonomi desa yang tidak hanya aktif secara kelembagaan, tetapi juga mampu menciptakan usaha produktif, membuka peluang ekonomi, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di tingkat desa.















Komentar