JurnalPatroliNews | Sukabumi – Ketika sebuah ekspedisi dikenang melalui foto-foto pendakian, derasnya arus sungai, atau kisah menembus belantara, sering kali ada satu bagian yang luput dari perhatian. Bukan mereka yang berdiri di depan kamera, melainkan orang-orang yang bekerja tanpa sorotan, memastikan seluruh perjalanan berlangsung aman hingga setiap peserta kembali ke rumah.
Begitulah wajah lain Ekspedisi Cicatih Elpala 2026.
Selama sepekan, perhatian publik memang tertuju pada tim yang menembus rimbunnya hutan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, menaklukkan medan berat, hingga mengarungi Sungai Cicatih menuju pesisir Pelabuhan Ratu. Namun di balik setiap langkah itu, terdapat sebuah tim yang nyaris tak pernah muncul dalam dokumentasi, tetapi justru menjadi denyut utama seluruh ekspedisi.
Merekalah para penjaga ritme perjalanan.
Di pusat kendali atau base camp, Raihana Hayatunufus, Syahira Putria Adantie, dan Akmal Kurniawan memegang peranan vital. Mereka memastikan logistik tersedia tepat waktu, jalur komunikasi tetap terbuka, administrasi tertata rapi, hingga setiap perkembangan tim lapangan dapat dipantau dari pagi hingga larut malam.
Mereka tidak bekerja sendiri. Di belakangnya berdiri tim Rumah Elpala yang terdiri atas Wina Maria, Mohammad Farish, Surya Pagi Asa, Hendrata Yudha, Susan Indahwati, Hizkia Mandagie, Onaria Fransisca, dan Tomi Budiarto. Bersama-sama mereka menjadi mesin yang menjaga seluruh sistem tetap berjalan.
Sejak hari pertama, 4 Juli 2026, ketika sebagian peserta baru mengenali kawasan Cimelati sebagai titik awal ekspedisi, tim base camp telah memulai pekerjaan yang nyaris tak pernah berhenti. Mereka membangun posko, menyusun distribusi logistik, menata perlengkapan, sekaligus membangun komunikasi dengan masyarakat sekitar.
Bagi Raihana, pendekatan kepada warga bukan sekadar formalitas.
“Pendekatan dengan warga menjadi bagian penting agar seluruh kegiatan berjalan lancar. Kami ingin masyarakat merasa menjadi bagian dari ekspedisi ini,” ujarnya.
Hari berikutnya, suasana base camp berubah semakin sibuk. Alumni Elpala, tim pendukung, hingga talent mulai berdatangan. Semua larut dalam semangat gotong royong mempersiapkan perlengkapan yang akan menemani perjalanan panjang ke pedalaman hutan.
Sebelum keberangkatan, seluruh peserta berkumpul mengikuti doa bersama yang dipimpin sesepuh Desa Cimelati. Momen sederhana itu menjadi simbol penghormatan kepada alam sekaligus pengingat bahwa setiap perjalanan selalu membutuhkan kerendahan hati.
Ketika tim utama akhirnya memasuki kawasan Gunung Halimun Salak, pekerjaan di base camp justru memasuki fase paling krusial.
Radio komunikasi tak pernah benar-benar berhenti berbunyi. Setiap laporan posisi dicatat. Peta perjalanan diperbarui. Logistik dihitung ulang. Seluruh informasi didokumentasikan secara sistematis agar setiap keputusan dapat diambil dengan cepat apabila terjadi situasi darurat.
Selama dua hari berikutnya, ritme itu terus berulang.
Sementara peserta menghadapi tanjakan, cuaca, dan medan berat di hutan, tim pendukung memastikan kebutuhan tambahan dapat dikirim tepat waktu. Malam hari berubah menjadi ruang evaluasi, tempat seluruh pengalaman dibagikan, persoalan dibahas, dan kebersamaan tumbuh semakin kuat.
Memasuki 8 Juli, rombongan berpindah menuju kawasan Saka Alam, Leuwi Lalay, sebagai titik awal etape pengarungan Sungai Cicatih. Perpindahan tersebut menambah kompleksitas pekerjaan tim pendukung yang kini harus mengoordinasikan dua medan berbeda: daratan dan sungai.
Pada 9 Juli, pengarungan resmi dimulai bersama tim Wanadri. Sejak pagi hingga sore, peserta berlatih mengendalikan perahu karet mengikuti karakter arus Sungai Cicatih.
Di saat yang sama, base camp tetap siaga.
Radio komunikasi menjadi penghubung utama. Setiap perkembangan dicatat. Setiap kebutuhan dipastikan tersedia bahkan sebelum diminta.
Puncak tantangan datang sehari kemudian.
Selama hampir delapan jam, peserta mengarungi sekitar 30 kilometer aliran Sungai Cicatih. Ketika mereka masih bergelut dengan arus sungai, tim pendukung telah lebih dahulu tiba di lokasi berikutnya untuk menyiapkan tenda, logistik, perlengkapan, hingga makanan hangat.
Begitu rombongan tiba menjelang malam, rasa lelah perlahan berganti kelegaan.
“Rasa lelah seolah terbayar ketika melihat seluruh tim tiba dengan selamat. Malam itu kami menikmati hidangan laut yang disiapkan tim logistik. Sederhana, tetapi menjadi momen kebersamaan yang tidak akan terlupakan,” kenang Raihana.
Tidak ada tepuk tangan ketika logistik datang tepat waktu.
Tidak ada sorotan kamera ketika radio komunikasi bekerja tanpa henti.
Tidak ada medali ketika seluruh peserta kembali dalam keadaan selamat.
Namun justru di situlah makna sesungguhnya sebuah tim.
Pada 11 Juli 2026, Ekspedisi Cicatih Elpala resmi berakhir. Tidak ada pesta kemenangan ataupun seremoni mewah. Yang tersisa hanyalah pelukan, tawa, foto bersama, dan cerita yang akan dikenang bertahun-tahun kemudian.
Bagi Raihana, keberhasilan ekspedisi bukan sekadar berhasil menuntaskan perjalanan, melainkan keberhasilan seluruh tim menjaga kepercayaan satu sama lain.
“Di hari terakhir kami tidak pulang dengan tangan kosong. Kami pulang membawa sukacita yang kami ciptakan bersama dalam setiap langkah perjalanan. Di balik setiap keberhasilan ekspedisi, selalu ada tim yang bekerja tanpa ingin dikenal. Dan justru di sanalah makna persaudaraan itu benar-benar terasa.”
Ekspedisi Cicatih Elpala 2026 akhirnya meninggalkan satu pelajaran yang melampaui petualangan alam itu sendiri. Bahwa setiap keberhasilan bukan hanya lahir dari mereka yang berada di garis depan, tetapi juga dari tangan-tangan yang bekerja dalam diam.
Mereka mungkin tidak tercatat sebagai penakluk gunung ataupun pengarung sungai.
Namun tanpa mereka, tidak akan ada cerita yang bisa dibawa pulang.















Komentar