JurnalPatroliNews | Jakarta — Harga emas kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Selasa (18/8/2026) siang. Penguatan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) serta kenaikan harga minyak mentah menjadi dua faktor utama yang membebani pergerakan logam mulia.
Di pasar spot, harga emas turun 0,5 persen menjadi US$4.391,14 per ons troi pada pukul 11.23 WIB. Sementara itu, emas berjangka AS untuk kontrak Desember 2026 melemah 0,6 persen menjadi US$4.446,70 per ons troi.
Tekanan terhadap emas juga datang dari kenaikan imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun. Ketika imbal hasil surat utang pemerintah meningkat, daya tarik emas cenderung berkurang karena logam mulia tersebut tidak memberikan pendapatan bunga.
Kondisi tersebut membuat investor kini mencermati perkembangan kebijakan moneter AS, terutama risalah rapat Federal Reserve (The Fed) yang diharapkan memberikan petunjuk mengenai arah suku bunga berikutnya.
Selain imbal hasil Treasury, kenaikan harga minyak mentah turut menjadi perhatian pasar.
Harga minyak bergerak naik setelah Iran menyatakan akan mengubah sikap militernya menjadi lebih ofensif menyusul gagalnya upaya mencapai kesepakatan permanen untuk mengakhiri konflik dengan AS.
Di sisi lain, Washington menyatakan tidak akan memperpanjang kesepakatan gencatan senjata sementara.
Situasi tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global, terutama di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Analis ANZ Soni Kumari menilai perkembangan harga energi menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan dalam melihat arah harga emas.
“Harga minyak akan tetap menjadi salah satu faktor utama yang menekan emas karena situasi di Timur Tengah masih terlihat tidak pasti,” kata Kumari, dikutip dari Reuters.
Selain perkembangan geopolitik, investor juga menunggu sinyal dari bank sentral AS mengenai kebijakan suku bunga.
Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi. Jika inflasi kembali menjadi perhatian utama, pasar dapat memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama.
Situasi tersebut menjadi tantangan bagi emas.
Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, emas biasanya menjadi kurang menarik ketika tingkat suku bunga dan imbal hasil obligasi meningkat. Investor dapat beralih ke instrumen berbasis bunga yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Karena itu, arah kebijakan The Fed menjadi salah satu faktor penting yang akan menentukan pergerakan emas dalam waktu dekat.
Tekanan tidak hanya terjadi pada emas. Sejumlah logam mulia lainnya juga mengalami penurunan pada perdagangan Selasa.
Harga perak spot turun 1 persen menjadi US$65,11 per ons troi. Platinum melemah 1,2 persen menjadi US$1.748,56 per ons troi.
Sementara itu, harga paladium turun 1,2 persen menjadi US$1.317,01 per ons troi.
Pergerakan tersebut menunjukkan pasar logam mulia tengah menghadapi tekanan dari kombinasi faktor makroekonomi dan geopolitik.
Untuk emas, perhatian investor kini tertuju pada dua perkembangan utama: arah kebijakan suku bunga The Fed dan perkembangan konflik di Timur Tengah yang berpengaruh terhadap harga energi.















Komentar