JurnalPatroliNews | Jakarta — Harga logam mulia dunia bergerak melemah pada perdagangan Rabu (26/8/2026). Emas menjadi salah satu komoditas yang mengalami tekanan setelah data inflasi Amerika Serikat kembali memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve berpotensi menaikkan suku bunga pada September.
Data Personal Consumption Expenditures (PCE) menunjukkan inflasi Amerika Serikat mencapai 3,7 persen secara tahunan pada Juli 2026. Angka tersebut berada sedikit di atas ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan 3,6 persen. Kondisi itu membuat peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September meningkat, sementara dolar AS turut menguat sekitar 0,3 persen.
Kombinasi inflasi yang masih tinggi dan penguatan dolar AS memberikan tekanan terhadap logam mulia yang dihargai dalam mata uang dolar.
Mengacu pada perdagangan Rabu, harga emas spot turun 1,3 persen menjadi US$4.595,93 per troy ounce. Sementara kontrak emas berjangka AS ditutup melemah 0,9 persen ke level US$4.653,30 per troy ounce.
Penurunan juga terjadi pada logam mulia lainnya. Harga perak spot turun 1 persen menjadi US$67,93 per ounce, sedangkan platinum merosot 1,4 persen menjadi US$1.831,67 per ounce. Harga paladium turut terkoreksi, meski hanya 0,1 persen menjadi US$1.324,63 per ounce.
Pergerakan logam mulia kali ini tidak terlepas dari perhatian investor terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
PCE merupakan salah satu indikator inflasi yang menjadi perhatian utama Federal Reserve. Data Juli menunjukkan inflasi masih berada jauh di atas target 2 persen bank sentral AS, sehingga ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter menjadi semakin terbatas.
Pasar kemudian meningkatkan perkiraan terhadap peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September. Reuters mencatat probabilitas tersebut berada di sekitar 40 persen setelah data inflasi terbaru dirilis.
Bagi pasar emas, ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi biasanya menjadi tekanan karena emas tidak memberikan imbal hasil bunga. Ketika instrumen berbasis dolar menawarkan prospek imbal hasil lebih tinggi, sebagian investor cenderung mengurangi eksposur terhadap emas.
Penguatan dolar juga membuat harga emas relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga ikut menekan permintaan.
Meski terkoreksi dalam jangka pendek, penurunan harga emas belum serta-merta mengubah pandangan bullish sebagian analis terhadap prospek jangka menengah dan panjang.
Reuters mengutip Peter Grant dari Zaner Metals yang menilai pergerakan emas setelah rilis data lebih mencerminkan aksi ambil untung dan konsolidasi. Grant masih melihat peluang emas bergerak lebih tinggi apabila faktor fundamental lain tetap mendukung.
Sejumlah analis bahkan memperkirakan harga emas berpotensi menembus US$5.000 per ounce dan mencetak rekor baru pada 2027, meskipun proyeksi tersebut tetap bergantung pada perkembangan inflasi, suku bunga, dolar AS, serta kondisi geopolitik.
Selain kebijakan The Fed, investor juga masih mencermati perkembangan geopolitik yang berpotensi memengaruhi pasar komoditas global, termasuk dinamika kawasan Timur Tengah dan pembicaraan mengenai Selat Hormuz.
Dengan demikian, tekanan terhadap logam mulia pada perdagangan Rabu lebih mencerminkan respons pasar terhadap kombinasi inflasi AS, penguatan dolar, dan meningkatnya spekulasi mengenai kebijakan suku bunga The Fed.
Bagi investor, perkembangan data ekonomi AS dan arah komunikasi bank sentral akan tetap menjadi faktor penting dalam menentukan pergerakan harga emas dan logam mulia pada perdagangan berikutnya.















Komentar