Gempa Susulan Belum Reda, NTT Perpanjang Tanggap Darurat hingga 12 September

JurnalPatroliNews | Kupang — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memperpanjang masa tanggap darurat bencana gempa bumi Flores selama 14 hari. Keputusan itu berlaku mulai 29 Agustus hingga 12 September 2026, menyusul aktivitas gempa susulan yang masih terjadi di sejumlah wilayah terdampak.

Perpanjangan status tersebut diputuskan setelah Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena memimpin rapat koordinasi bersama jajaran Forkopimda dan para kepala daerah di wilayah terdampak. Pemerintah menilai situasi lapangan masih membutuhkan penanganan khusus karena ancaman gempa susulan belum sepenuhnya berakhir.

Gubernur Melki mengatakan keputusan memperpanjang masa tanggap darurat diambil dengan mempertimbangkan perkembangan aktivitas seismik di Flores. BMKG masih memantau potensi gempa susulan yang menurut pemerintah daerah dapat kembali menimbulkan kerusakan apabila terjadi dengan kekuatan cukup besar.

Data BMKG menunjukkan gempa-gempa yang mengguncang Flores dalam beberapa hari terakhir merupakan rangkaian susulan dari gempa magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026. Hingga 26 Agustus, BMKG mencatat 7.914 aktivitas gempa susulan, dengan magnitudo terbesar mencapai 6,2. Bahkan pada 29 Agustus, aktivitas gempa masih tercatat terjadi di kawasan Flores.

111 Orang Meninggal, Kerusakan Meluas

Di tengah aktivitas seismik yang masih berlangsung, dampak gempa juga masih menjadi perhatian pemerintah. BNPB melaporkan jumlah korban meninggal dunia akibat gempa Flores mencapai 111 orang. Ribuan warga masih harus menjalani kehidupan di lokasi pengungsian karena rumah dan fasilitas umum mengalami kerusakan.

Data kerusakan rumah juga terus diperbarui. Laporan terbaru menyebut sebanyak 89.618 rumah di tujuh kabupaten terdampak kerusakan dengan tingkat ringan, sedang hingga berat. BNPB menegaskan angka tersebut masih dalam proses verifikasi dan validasi pemerintah.

Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah belum dapat sepenuhnya mengakhiri fase tanggap darurat. Selain evakuasi dan pemenuhan kebutuhan dasar, perhatian juga diarahkan pada pemulihan layanan publik yang terdampak bencana.

Pemerintah Mulai Hidupkan Kembali Aktivitas Warga

Meski status tanggap darurat diperpanjang, pemerintah NTT tidak bermaksud menghentikan seluruh aktivitas masyarakat. Gubernur Melki menegaskan sejumlah pelayanan publik mulai diarahkan untuk berjalan secara terbatas dengan tetap mengutamakan keselamatan.

Sektor pendidikan menjadi salah satu yang diprioritaskan. Pemerintah berkoordinasi dengan sekolah-sekolah di wilayah Flores agar kegiatan belajar mengajar tingkat SD hingga SMA dapat kembali berlangsung secara terbatas mulai pekan depan, dengan menyesuaikan kondisi masing-masing daerah.

Pemerintah juga mendorong roda ekonomi tetap bergerak. Warga diharapkan tidak terus-menerus berada di pengungsian apabila kondisi memungkinkan, sehingga kegiatan sosial dan ekonomi dapat kembali berjalan secara bertahap.

Keselamatan Tetap Menjadi Prioritas

Sementara itu, BMKG meminta masyarakat tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan serta menghindari bangunan yang mengalami keretakan atau kerusakan akibat gempa. Pada beberapa kejadian setelah gempa utama, BMKG mencatat guncangan susulan dengan magnitudo di atas 5 yang kembali dirasakan masyarakat Flores.

Perpanjangan status tanggap darurat hingga 12 September dengan demikian menjadi langkah pemerintah untuk menjaga kesiapsiagaan sekaligus mempercepat penanganan dampak bencana.

Bagi masyarakat Flores, masa darurat belum benar-benar berakhir. Ancaman gempa susulan, kebutuhan pengungsian, perbaikan rumah hingga pemulihan fasilitas publik masih menjadi pekerjaan besar yang harus diselesaikan secara bertahap.

Komentar