JurnalPatroliNews – Jakarta -Harga komoditas cabai rawit di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengalami lonjakan signifikan menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Di tingkat pedagang Pasar Beringharjo, harga cabai rawit merah kini dilaporkan telah menyentuh angka Rp 100.000 per kilogram, menyusul kenaikan permintaan dan dinamika pasokan di tingkat produsen.
Menyikapi kondisi tersebut, Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, mengimbau masyarakat untuk mulai membudidayakan tanaman cabai secara mandiri di lingkungan rumah.
Menurutnya, menanam cabai merupakan langkah praktis yang dapat membantu mencukupi kebutuhan konsumsi harian keluarga tanpa harus bergantung sepenuhnya pada harga pasar.
Made menjelaskan bahwa budidaya cabai tidak memerlukan lahan yang luas. Masyarakat dapat memanfaatkan pot atau polybag, bahkan di lahan sesempit satu hingga dua jengkal sekalipun.
Ia mencontohkan pengalamannya sendiri di mana biji cabai sisa dapur yang disebar di media tanam dapat tumbuh dengan mudah tanpa perlakuan pupuk yang rumit.
Terkait fluktuasi harga, Made mengungkapkan bahwa kenaikan harga cabai menjelang hari besar keagamaan merupakan fenomena tahunan yang sulit dihindari. Kondisi cuaca yang tidak menentu menjadi faktor utama yang mempengaruhi volume suplai ke pasar.
Ketika pasokan melimpah, harga akan turun drastis, namun saat produksi terhambat cuaca buruk, harga otomatis meroket tajam.
Hingga saat ini, pemerintah belum menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk cabai karena karakteristik komoditas ini yang sangat fluktuatif.
Data di lapangan mengonfirmasi ketidakpastian harga tersebut. Ida Habibah, salah seorang pedagang di Pasar Beringharjo, menyebutkan bahwa pergerakan harga cabai rawit terjadi sangat cepat.
Dalam waktu singkat, harga sempat bergejolak dari Rp 105.000, turun ke angka Rp 75.000, sebelum akhirnya kembali melonjak ke angka Rp 100.000 per kilogram pada Rabu (4/3/2026).
Selain cabai rawit, komoditas sayuran lain yang terpantau mengalami kenaikan signifikan adalah brokoli. Harga brokoli yang semula berada di kisaran Rp 15.000 per kilogram, kini telah merangkak naik secara bertahap hingga mencapai Rp 35.000 per kilogram.
Pemda DIY berharap gerakan tanam mandiri ini dapat meringankan beban ekonomi rumah tangga di tengah tren kenaikan berbagai bahan pokok penting.














