JurnalPatroliNews | Jakarta — Indonesia kembali memperluas sasaran perdagangan dan investasi ke kawasan Amerika Latin dan Karibia (Amlatkar). Upaya tersebut dilakukan melalui Indonesia-Latin American and the Caribbean (INA-LAC) Business Mission 2026 yang akan berlangsung di Santiago, Chile, pada 1–2 Oktober 2026.
Santiago dipilih sebagai pintu masuk bagi pelaku usaha Indonesia untuk menjajaki peluang bisnis di Chile sekaligus memperluas koneksi ke kawasan Amlatkar yang mencakup 33 negara dengan populasi sekitar 670 juta jiwa.
Misi bisnis INA-LAC sebelumnya digelar di Lima, Peru, pada 2024 dan Sao Paulo, Brasil, pada 2025.
Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri RI Grata Endah Werdaningtyas mengatakan pemerintah ingin membuka akses yang lebih luas bagi perusahaan Indonesia ke pasar yang selama ini belum menjadi tujuan utama perdagangan nasional.
“Tujuannya sebenarnya simpel saja bahwa INALAC ini adalah salah satu upaya dari pemerintah untuk memfasilitasi kerja sama perdagangan dan investasi antara Indonesia dengan negara-negara di Amerika Latin dan Karibia,” kata Grata dalam temu media di Menteng, Jakarta, Senin (14/9/2026).
Porsi Perdagangan Baru Sekitar 3 Persen
Kawasan Amlatkar dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai pasar ekspor dan tujuan investasi baru Indonesia.
Grata mengatakan nilai perdagangan Indonesia dengan kawasan tersebut menunjukkan tren peningkatan. Namun, kontribusinya terhadap keseluruhan perdagangan Indonesia secara global masih sekitar 3 persen.
Sepanjang 2025, ekspor Indonesia ke kawasan Amlatkar tercatat mencapai US$7,48 miliar, sedangkan impor berada di angka US$8,5 miliar.
Menurut Grata, pemerintah tidak semata-mata menempatkan surplus perdagangan sebagai sasaran. Perluasan total nilai perdagangan dan diversifikasi pasar juga menjadi bagian dari strategi Indonesia.
“Yang harus kita kejar adalah mengoptimalkan jumlah total dari perdagangan,” ujarnya.
Strategi tersebut sekaligus diarahkan untuk membuka lebih banyak tujuan bagi produk Indonesia sehingga ketergantungan pada pasar tradisional dapat dikurangi.
21 Perusahaan Indonesia Bertolak ke Chile
Sebanyak 21 perusahaan Indonesia dari berbagai sektor dijadwalkan mengikuti INA-LAC Business Mission 2026.
Perusahaan yang berpartisipasi berasal dari sektor makanan dan minuman, wellness, farmasi, alat kesehatan, otomotif, energi hingga industri strategis. Jumlah peserta tersebut masih berpeluang bertambah.
Direktur Amerika II Kemlu RI Epiphania Riris Wusananingdyah mengatakan partisipasi dunia usaha menjadi salah satu komponen penting dalam misi dagang tersebut.
“Per hari ini ada 21 dari berbagai sektor,” ungkap Riris.
Para pelaku usaha akan mengikuti sejumlah agenda, mulai dari kunjungan industri, business pitching hingga business matching dengan calon mitra usaha dari Chile dan negara-negara Amlatkar lainnya.
Forum tersebut diharapkan dapat mempertemukan perusahaan Indonesia dengan calon pembeli, investor maupun mitra strategis di kawasan.
Transaksi INA-LAC 2025 Capai US$297 Juta
Pengalaman penyelenggaraan INA-LAC sebelumnya menunjukkan adanya potensi transaksi yang cukup besar.
Pada INA-LAC 2025, tercatat transaksi konkret mencapai US$297 juta, sementara potensi transaksi yang teridentifikasi mencapai US$284 juta.
Untuk pelaksanaan 2026, Kemlu belum menetapkan angka target transaksi maupun investasi yang akan dikejar.
Riris mengatakan pemerintah masih melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk menentukan sasaran dan mengukur peluang transaksi dalam misi bisnis tahun ini.
Chile dan Brasil Jadi Mitra Mineral Kritis
Selain perdagangan barang, INA-LAC 2026 juga membawa agenda kerja sama di sektor energi dan pertambangan.
Kementerian Luar Negeri akan menggelar INA-LAC Energy and Mining Business Forum sebagai bagian dari rangkaian kegiatan di Santiago.
Forum tersebut diarahkan untuk membuka peluang kerja sama di sektor energi dan mineral kritis yang memiliki nilai strategis bagi industri masa depan.
Chile menjadi salah satu negara penting dalam rantai pasok lithium dunia. Sementara Brasil dikenal memiliki posisi kuat dalam produksi niobium global.
Indonesia juga memiliki sumber daya mineral strategis, termasuk nikel dan bauksit, serta terus mengembangkan kapasitas pengolahan di dalam negeri.
Pertemuan bisnis tersebut menjadi ruang untuk menjajaki kemungkinan kerja sama dari sisi perdagangan, investasi, teknologi, hingga pengembangan rantai nilai mineral.
Membuka Jalur Dagang ke Pasar Nontradisional
Melalui INA-LAC 2026, pemerintah tidak hanya membawa perusahaan Indonesia untuk mencari pembeli baru, tetapi juga mendorong pembentukan jejaring bisnis jangka panjang dengan negara-negara di kawasan Amlatkar.
Kawasan dengan populasi sekitar 670 juta jiwa tersebut menawarkan pasar yang luas sekaligus peluang kemitraan di berbagai sektor.
Bagi Indonesia, perluasan hubungan ekonomi ke Amerika Latin dan Karibia menjadi bagian dari agenda diversifikasi pasar. Santiago diharapkan menjadi salah satu titik penting untuk mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan jaringan bisnis di kawasan tersebut.
Setelah penyelenggaraan di Peru pada 2024 dan Brasil pada 2025, misi INA-LAC tahun ini kembali membawa agenda serupa dengan cakupan sektor yang semakin beragam, termasuk perdagangan, investasi, energi dan mineral kritis.















Komentar