Kematian Santri di Sukabumi: Pengakuan Korban Sebelum Ajal dan Tangis Ayah yang Kehilangan Calon Kiai

JurnalPatroliNews – Sukabumi- Di balik misteri kematian NS (12), bocah SMP yang diduga menjadi korban penganiayaan ibu tiri di Jampangkulon, tersimpan duka mendalam bagi sang ayah, Anwar Satibi.

Baginya, luka paling menyakitkan bukanlah sekadar kehilangan, melainkan pupusnya cita-cita luhur sang anak yang ingin mengabdikan diri menjadi seorang kiai.

NS, yang dikenal sebagai santri di Pondok Pesantren Darul Maarif, Cibitung, baru saja pulang ke rumah untuk menyambut bulan Ramadan.

Anwar mengenang momen terakhir saat ia memberikan uang saku sebesar Rp 50 ribu kepada putranya. “Dia bilang alhamdulillah buat bekal di pesantren.

Itu yang membuat saya sakit, dia ingin jadi kiai,” tutur Anwar dengan suara bergetar, Minggu (22/2/2026).

Kejanggalan Luka ‘Sakit Panas’ Misteri bermula pada Rabu (18/2), saat Anwar yang sedang bekerja mendapat telepon dari istrinya (ibu tiri korban) yang mengabarkan bahwa NS mengalami sakit panas.

Namun, setibanya di rumah, Anwar mendapati kondisi yang jauh dari sekadar demam biasa. Seluruh kulit tubuh NS, mulai dari kaki, punggung, hingga tangan, dalam kondisi melepuh.

Saat Anwar mempertanyakan kondisi tersebut, sang istri berdalih bahwa luka melepuh itu muncul secara alami akibat panas yang diderita korban. Merasa ada yang tidak beres, NS kemudian dilarikan ke RSUD Jampangkulon keesokan harinya.

Pengakuan Terakhir di Ruang Medis Kecurigaan Anwar semakin menguat di ruang IGD. Ia sengaja memanggil pengurus pondok pesantren, Isep Dadang Sukmana, untuk berkomunikasi langsung dengan korban.

Di saat-saat kritisnya, NS memberikan pengakuan mengejutkan yang mematahkan alibi ibu tirinya.

“Haji Isep datang, ditanyalah anak ini. Dia mengaku dikasih (disuruh minum) air panas,” ungkap Anwar.

Mendengar pengakuan tersebut, emosi Anwar pecah di rumah sakit. Meski tim medis telah berupaya memberikan perawatan intensif di ruang ICU, nyawa calon kiai muda ini tidak tertolong.

NS dinyatakan meninggal dunia pada Kamis sore, meninggalkan tanda tanya besar yang kini tengah didalami oleh Satreskrim Polres Sukabumi. Hingga saat ini, kepolisian masih menunggu hasil laboratorium forensik untuk menentukan status hukum ibu tiri korban.