Korban Gempa NTT Naik Jadi 135 Orang, BNPB Bongkar Data Puluhan Ribu Rumah Rusak

JurnalPatroliNews | Jakarta — Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) terus bertambah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 135 orang meninggal dunia hingga Selasa, 8 September 2026.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan 48 orang meninggal akibat dampak langsung gempa. Sementara 87 lainnya meninggal karena dampak tidak langsung yang muncul setelah bencana tersebut.

“Jumlah yang meninggal akibat gempa bumi tersebut 48 orang. Ini adalah warga yang terdampak langsung oleh gempa bumi. Namun demikian, ada 87 orang yang meninggal akibat dampak tidak langsung dari gempa bumi,” ujar Berton dalam keterangan pers, Selasa.

Korban Didominasi Dampak Tidak Langsung

Data terbaru BNPB memperlihatkan bahwa jumlah korban akibat dampak tidak langsung justru lebih besar dibandingkan korban yang meninggal karena guncangan secara langsung.

Kondisi itu membuat penanganan pascagempa tidak hanya berfokus pada evakuasi dan pencarian korban, tetapi juga pada dampak lanjutan yang dapat memengaruhi keselamatan dan kondisi masyarakat di wilayah terdampak.

Gempa M7,7 tersebut sebelumnya mengguncang wilayah Flores, NTT, pada 15 Agustus 2026. Hingga 8 September, aktivitas kegempaan di kawasan tersebut masih berlanjut. BMKG bahkan mencatat 13.591 gempa susulan, dengan gempa susulan terbesar mencapai magnitudo 5,2.

Hampir 100 Ribu Rumah Dilaporkan Rusak

Selain korban jiwa, skala kerusakan permukiman juga menjadi perhatian pemerintah.

BNPB memperoleh laporan sebanyak 98.986 rumah terdampak dan mengalami kerusakan, mulai dari kategori rusak berat, sedang hingga ringan.

Namun, angka tersebut belum dapat dianggap sebagai data final. BNPB masih melakukan verifikasi langsung untuk memastikan apakah laporan kerusakan yang diterima benar-benar memenuhi kriteria.

Dari hampir 99 ribu rumah yang dilaporkan rusak tersebut, sebanyak 51.591 rumah telah selesai diverifikasi.

Hasil sementara menunjukkan 2.382 rumah masuk kategori rusak berat, 7.276 rumah rusak sedang, dan 14.177 rumah rusak ringan.

Sementara itu, 27.756 rumah yang sebelumnya dilaporkan rusak ternyata tidak memenuhi kriteria kerusakan setelah dilakukan pemeriksaan lapangan.

Data Rumah Rusak Belum Final

BNPB menegaskan proses verifikasi masih berlangsung.

Menurut Berton, angka final nantinya akan ditetapkan setelah pemerintah daerah memberikan data berdasarkan nama dan alamat atau by name by address kepada BNPB.

“Verifikasi ini masih tetap berlanjut hingga pada akhirnya nanti kami akan memperoleh angka yang pasti,” kata Berton.

Dengan demikian, angka 98.986 rumah untuk sementara harus dipahami sebagai jumlah laporan kerusakan yang masuk, bukan keseluruhan bangunan yang telah dipastikan rusak melalui pemeriksaan lapangan.

Tahapan validasi menjadi penting karena data tersebut nantinya berkaitan dengan kebijakan pemerintah, termasuk penyaluran bantuan dan program perbaikan rumah warga terdampak.

Fasilitas Publik Ikut Terdampak

Dampak gempa juga dirasakan pada fasilitas publik.

BNPB mencatat sebanyak 712 fasilitas pendidikan, 157 fasilitas kesehatan, dan 663 unit perkantoran mengalami kerusakan akibat gempa.

Kerusakan pada fasilitas publik menambah kompleksitas pemulihan karena masyarakat tidak hanya membutuhkan tempat tinggal yang aman, tetapi juga akses pendidikan, pelayanan kesehatan dan layanan pemerintahan yang kembali berjalan.

Ribuan Ton Bantuan Dikerahkan

Di tengah proses pemulihan, pemerintah terus mengirimkan bantuan logistik ke wilayah terdampak.

BNPB menyebut total bantuan yang telah disalurkan untuk penanganan gempa NTT mencapai 2.165 ton.

Distribusi dilakukan melalui dua jalur utama, yakni Labuan Bajo sebanyak 1.379 ton dan Maumere sebanyak 652 ton. BNPB sebelumnya juga mengoperasikan Pos Pendampingan Nasional di kedua wilayah tersebut untuk mendukung distribusi bantuan ke daerah-daerah terdampak.

Per 7 September 2026, BNPB juga telah mengalihkan Pos Pendukung Logistik Nasional dari Bandara Halim Perdanakusuma ke gudang logistik dan peralatan BNPB di Jati Asih, Bekasi.

Tantangan Pemulihan Masih Panjang

Meningkatnya jumlah korban dan besarnya dampak kerusakan menunjukkan bahwa penanganan gempa NTT belum berakhir meskipun fase tanggap darurat telah berjalan cukup lama.

Pemerintah kini menghadapi pekerjaan besar untuk memastikan data korban dan kerusakan benar-benar akurat, bantuan menjangkau masyarakat yang membutuhkan, serta proses pemulihan dapat dilakukan berdasarkan kondisi lapangan.

Di saat bersamaan, aktivitas gempa susulan yang masih terjadi membuat kewaspadaan masyarakat tetap diperlukan.

Bagi BNPB, pembaruan data bukan sekadar angka statistik. Validasi korban, rumah rusak dan fasilitas publik menjadi dasar untuk menentukan bentuk intervensi pemerintah berikutnya.

135 Korban, Data Kerusakan Masih Bergerak

Angka 135 korban meninggal dunia menjadi gambaran terbaru dampak gempa NTT hingga Selasa, 8 September 2026.

Namun, angka kerusakan rumah masih sangat mungkin berubah karena verifikasi lapangan belum selesai.

Dari 98.986 rumah yang dilaporkan rusak, baru 51.591 yang telah diverifikasi. Sebagian di antaranya bahkan dinyatakan tidak masuk kriteria kerusakan.

Karena itu, pemerintah masih harus menyelesaikan proses validasi agar bantuan dan pemulihan benar-benar diberikan kepada warga yang terdampak.

Di balik angka 135 korban jiwa dan puluhan ribu rumah terdampak, pekerjaan terbesar setelah gempa kini adalah memastikan proses pemulihan berjalan berdasarkan data yang akurat, bantuan yang tepat sasaran, dan keselamatan masyarakat yang tetap menjadi prioritas.

Komentar