JurnalPatroliNews – Jakarta – Di tengah derasnya arus informasi digital dan budaya konsumtif yang semakin menguasai kehidupan masyarakat, The Lead Institute Universitas Paramadina kembali mengangkat diskursus kritis mengenai kondisi manusia modern melalui seri Kajian Filsafat & Agama 2026 bertajuk “Madzhab Frankfurt vs Madzhab Paramadina” dengan tema “Manusia di Zaman Edan”.
Forum intelektual yang digelar pada Senin (6/7/2026) malam tersebut mempertemukan dua arus pemikiran besar, yakni kritik sosial filsuf Jerman Herbert Marcuse mengenai One-Dimensional Man dengan konsep manusia sebagai khalifatullah yang dikembangkan oleh cendekiawan Muslim Indonesia Nurcholish Madjid (Cak Nur).
Diskusi dipandu oleh Peneliti The Lead Institute, Dida Darul Ulum, dan menghadirkan sejumlah akademisi lintas disiplin yang mengulas krisis kemanusiaan di tengah dominasi kapitalisme, teknologi digital, serta melemahnya kesadaran spiritual masyarakat.
Rektor Universitas Paramadina, Prof. Dr. Didik J. Rachbini, menegaskan bahwa filsafat memiliki posisi strategis untuk menjaga daya kritis manusia di tengah derasnya banjir informasi yang kerap mengaburkan kebenaran.
Menurutnya, filsafat bukan sekadar kajian akademik, melainkan latihan berpikir yang mampu membentuk cara pandang rasional sekaligus membantu manusia menemukan makna di balik berbagai persoalan kehidupan.
Ketua The Lead Institute, Dr. phil. Suratno Muchoeri, membuka forum dengan mengutip petuah legendaris dari pujangga Jawa R.Ng. Ronggowarsito dalam Serat Kalatidha mengenai “Zaman Edan”. Filosofi tersebut mengingatkan bahwa di tengah kekacauan moral dan perubahan zaman, manusia yang tetap sadar serta waspada justru akan memperoleh keberuntungan yang lebih besar dibanding mereka yang sekadar mengikuti arus.
Sementara itu, narasumber utama Dr. phil. Fitzerald Kennedy Sitorus, dosen filsafat Universitas Pelita Harapan sekaligus alumnus Goethe-Universität Frankfurt, mengulas tajam kritik Herbert Marcuse terhadap sistem kapitalisme modern.
Ia menjelaskan bahwa masyarakat saat ini kerap merasa hidup dalam kebebasan, padahal tanpa disadari telah menjadi bagian dari mekanisme industri dan pasar yang digerakkan oleh algoritma digital.
Menurut Fitzerald, iklan dan teknologi informasi terus membentuk kebutuhan-kebutuhan semu sehingga manusia terdorong untuk terus mengonsumsi sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Kondisi tersebut, kata dia, membuat kebebasan individu perlahan berubah menjadi ilusi yang dikendalikan oleh kepentingan ekonomi.
Ia juga mengangkat konsep repressive tolerance atau toleransi represif yang diperkenalkan Marcuse. Dalam konsep tersebut, kritik terhadap sistem justru sering kali diserap dan dimanfaatkan oleh sistem itu sendiri sehingga tidak menghasilkan perubahan yang berarti.
Berangkat dari kritik tersebut, Suratno Muchoeri menawarkan pendekatan neo-sufisme sebagai alternatif membangun kembali kesadaran manusia. Pendekatan itu dinilai mampu memadukan kedalaman spiritual dengan keterlibatan aktif dalam kehidupan sosial sehingga manusia tidak hanya fokus pada kehidupan pribadi, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitarnya.
Suratno kemudian menghubungkan gagasan tersebut dengan pemikiran Nurcholish Madjid mengenai manusia sebagai khalifatullah atau wakil Tuhan di bumi.
Ia menjelaskan bahwa konsep tauhid dalam Islam menempatkan manusia sebagai makhluk yang tidak terpisah dari Sang Pencipta. Karena itu, setiap tindakan memiliki dimensi moral sekaligus pertanggungjawaban di hadapan Tuhan.
Menurutnya, kesadaran sebagai khalifah melahirkan tanggung jawab untuk menghadirkan keadilan, kedamaian, serta kesejahteraan bagi sesama manusia dan alam semesta.
Melalui forum ini, The Lead Institute Universitas Paramadina kembali menegaskan komitmennya menghadirkan ruang dialog lintas pemikiran sebagai upaya membaca berbagai tantangan kemanusiaan kontemporer melalui perspektif filsafat dan agama.















Komentar