JurnalPatroliNews – Jakarta – Penelitian yang dilakukan Ecological Observation and Wetland Conservations (Ecoton) bersama Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) menemukan jejak mikroplastik dalam seluruh sampel air ketuban dan urine ibu hamil di Gresik.
Temuan ini memicu kekhawatiran terhadap risiko paparan mikroplastik bagi kesehatan ibu dan janin.
Riset gabungan tersebut berlangsung selama sepuluh bulan dan menghasilkan temuan mengejutkan. Sebanyak 42 sampel air ketuban dan urine yang diambil dari sejumlah kecamatan di Kabupaten Gresik dinyatakan mengandung partikel mikroplastik. Peneliti menyebut hasil uji tersebut telah final pada November 2025.
Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton, Rafika Aprilianti, menjelaskan bahwa semua sampel dinyatakan positif terkontaminasi.
“Sebanyak 42 sampel yang kami uji terkontaminasi mikroplastik,” katanya, Minggu (30/11/2025). Ia menambahkan bahwa jumlah partikel bervariasi di setiap sampel.
Rafika memerinci jenis mikroplastik yang ditemukan, meliputi fiber, film, fragmen, filamen, dan mikro bits. Film biasanya berasal dari plastik mika atau kemasan makanan, sementara fragmen banyak ditemukan pada jenis kemasan sachet.
Mikro bits sering berasal dari produk perawatan tubuh seperti scrub wajah dan tubuh. Fiber diduga bersumber dari pakaian berbahan sintetis.
Menurut Rafika, temuan ini menjadi dasar untuk penelitian lanjutan yang akan fokus pada kemungkinan dampak mikroplastik terhadap kesehatan ketuban dan urine ibu hamil.
Peneliti ingin memastikan apakah partikel-partikel tersebut dapat menyebabkan peradangan atau mengganggu pertumbuhan janin.
“Kami ingin melihat apakah paparan mikroplastik mengganggu perkembangan calon bayi,” ujarnya.
Akademisi Fakultas Kedokteran Unair, Lestari Sudaryanti, ikut menyoroti ancaman paparan mikroplastik terhadap kesehatan ibu dan janin.
Ia menekankan pentingnya fungsi plasenta sebagai saluran utama penghubung nutrisi dan oksigen dari ibu ke bayi. Jika plasenta mengalami kerusakan akibat paparan zat berbahaya, aliran nutrisi dan faktor imunitas dapat terganggu. “Jika plasenta rusak, itu bisa berdampak pada bayi,” kata Lestari.
Para peneliti menilai temuan awal ini harus menjadi alarm bagi pemerintah dan pemangku kepentingan. Mereka mendesak adanya mitigasi berbasis kesehatan masyarakat serta penguatan regulasi pengelolaan sampah plastik untuk mencegah peningkatan paparan mikroplastik, terutama pada kelompok rentan seperti ibu hamil.














