JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan negaranya siap mengambil langkah balasan jika Amerika Serikat (AS) tetap melanjutkan uji coba senjata nuklir yang telah ditangguhkan selama lebih dari tiga dekade.
Pernyataan keras tersebut disampaikan Putin menanggapi rencana Presiden AS Donald Trump yang menyebut AS siap kembali melakukan uji coba nuklir setelah penangguhan sejak tahun 1992.
“Jika AS atau negara penandatangan Comprehensive Nuclear Test Ban Treaty (CTBT) melakukan uji coba senjata nuklir, maka Rusia wajib mengambil tindakan balasan,” ujar Putin dalam rapat Dewan Keamanan Rusia, dikutip dari Al Jazeera, Kamis (6/11/2025).
Menanggapi potensi ancaman tersebut, Putin dilaporkan telah menginstruksikan Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertahanan, dinas khusus, dan lembaga sipil terkait untuk segera menyiapkan proposal mengenai kemungkinan dimulainya kembali uji coba senjata nuklir Rusia. Rusia terakhir kali melakukan uji coba nuklir pada tahun 1991.
“Sehubungan dengan hal ini, saya menginstruksikan agar seluruh instansi terkait mengumpulkan informasi tambahan, menganalisisnya di Dewan Keamanan, dan menyiapkan langkah awal untuk persiapan uji coba nuklir,” tegas Putin.
Ketegangan antara Moskow dan Washington meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir, terutama setelah Trump menuding Rusia gagal mengakhiri konflik di Ukraina.
Hubungan kedua negara juga memburuk setelah Trump membatalkan pertemuan bilateral dengan Putin di Hungaria pada Oktober 2025.
Sebelumnya, pada 30 Oktober 2025, Trump mengumumkan telah memerintahkan Departemen Pertahanan AS untuk segera melanjutkan uji coba senjata nuklir, dengan alasan menjaga kesetaraan kekuatan dengan negara-negara lain yang memiliki senjata nuklir.
Keputusan itu muncul hanya beberapa hari setelah Rusia melakukan uji coba rudal Burevestnik, rudal jelajah bertenaga nuklir yang dapat membawa hulu ledak lintas benua.
Menurut data Center for Arms Control and Non-Proliferation (CACNP), Rusia saat ini memiliki sekitar 5.459 hulu ledak nuklir, dengan 1.600 di antaranya aktif, sedangkan AS memiliki 5.550 hulu ledak nuklir dengan 3.800 berstatus aktif.
Kedua negara masih menjadi pemegang kekuatan nuklir terbesar di dunia, dan ketegangan terbaru ini menimbulkan kekhawatiran akan kembalinya era Perang Dingin baru.














