Trump Akhiri Shutdown Terpanjang, AS Telan Kerugian Rp 183 Triliun

JurnalPatroliNews – Jakarta – Ekonomi Amerika Serikat mengalami pukulan signifikan akibat penutupan sebagian pemerintahan yang berlangsung lebih dari satu bulan. Penutupan ini menjadi shutdown terlama dalam sejarah AS dan menyebabkan kerugian besar bagi perekonomian nasional.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan bahwa kebijakan macet tersebut menimbulkan kerugian permanen sekitar US$ 11 miliar atau setara Rp 183 triliun, sebagaimana dilaporkan NBC pada Selasa (25/11/2025).

Meski dampaknya besar, Bessent tetap optimistis terhadap prospek ekonomi pada 2026. Optimisme tersebut muncul seiring rencana pemerintahan Donald Trump yang akan menurunkan suku bunga dan memotong pajak demi mendorong pertumbuhan ekonomi.

Ia menjelaskan bahwa beberapa sektor yang sensitif terhadap perubahan suku bunga, termasuk sektor perumahan, memang telah memasuki masa resesi.

Namun, Bessent menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak akan menyeret ekonomi AS menuju pertumbuhan negatif secara keseluruhan.

Menurut Bessent, inflasi saat ini lebih dipicu oleh kenaikan harga jasa ketimbang kebijakan tarif. Ia menilai bahwa penurunan harga energi dapat menekan inflasi yang saat ini berada di kisaran 3 persen.

Shutdown tersebut berakhir setelah Presiden Trump menandatangani undang-undang pendanaan sementara yang berlaku hingga tahun depan.

Meski demikian, keputusan itu membuka kembali potensi ketegangan politik antara Partai Demokrat dan Partai Republik menjelang tahun politik 2026.