Wakil Kepala BGN Beberkan Materi Sensitif Retret Kabinet di Hambalang yang Bersifat Rahasia

JurnalPatroliNews – Jakarta – Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang, mengungkap sebagian gambaran pembahasan dalam retret Kabinet Merah Putih yang digelar di Hambalang, Jawa Barat, pada Selasa, 6 Januari 2025.

Ia menegaskan, sejumlah materi dalam pertemuan tersebut tidak dapat disampaikan ke publik karena berkaitan langsung dengan kepentingan strategis negara.

Dalam keterangan tertulis yang disampaikan Jumat, 9 Januari 2026, Nanik menjelaskan bahwa kegiatan retret berlangsung cukup panjang, mulai pukul 12.00 hingga 21.00 WIB, dengan jeda untuk makan serta ibadah. Pada sesi awal, Presiden Prabowo Subianto masih mengizinkan peliputan media ketika memaparkan capaian satu tahun pemerintahannya. Namun suasana berubah tertutup saat pembahasan memasuki isu geopolitik dan kebocoran besar kekayaan nasional.

Menurut Nanik, tidak semua materi dalam forum tersebut layak dikonsumsi publik karena menyangkut pertahanan negara dan strategi geopolitik jangka panjang. Presiden, kata dia, memaparkan data mengejutkan terkait aliran dana ratusan hingga ribuan triliun rupiah per tahun yang diduga keluar dari Indonesia.

Kebocoran itu, lanjut Nanik, bersumber dari berbagai persoalan, mulai dari pengelolaan BUMN yang bermasalah, praktik under invoicing, hingga perkebunan sawit ilegal yang disebut telah berlangsung selama lebih dari tiga dekade.

“Ada strategi negara yang memang tidak bisa dibuka ke media karena berkaitan langsung dengan pertahanan dan posisi geopolitik Indonesia,” ujar Nanik.

Dalam forum tersebut, Presiden Prabowo juga menyerukan komitmen penuh seluruh jajaran kabinet untuk menghentikan praktik kejahatan ekonomi skala besar yang selama ini merugikan negara. Bahkan, Presiden secara terbuka menyatakan tidak keberatan jika ada pejabat yang memilih mundur karena tidak sejalan dengan tekad tersebut.

“Pak Prabowo mempersilakan siapa pun di kabinet untuk mundur bila tidak memiliki kemauan dan keberanian yang sama dalam menghentikan pembobolan uang negara dari sektor sumber daya alam,” ungkap Nanik.

Ia menggambarkan suasana retret berlangsung sangat emosional. Para peserta disebut terharu hingga meneteskan air mata saat menyaksikan tayangan tentang penderitaan rakyat, namun di sisi lain muncul amarah dan keprihatinan mendalam ketika data kebocoran kekayaan negara ditampilkan secara rinci.

Menutup pernyataannya, Nanik menyampaikan keyakinan penuh terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo dalam membenahi persoalan tersebut.

“Saya optimistis Pak Prabowo mampu menghentikan kebocoran uang negara dari SDA. Tidak ada kata terlambat, meskipun angka-angka yang dipaparkan benar-benar membuat hati perih,” pungkasnya.