Konstelasi Dibukanya Kembali Jalur Pelayaran di Selat Hormus, Diplomasi Trump Bersama Pasukan Saudagarnya: Indonesia Mesti Bagaimana?

Tapi Presiden China, Xi Jinping membantahnya, “there is no such thing as the so-called Thucydides Trap in the world,” alasannya bahwa konflik antara kedua negara “is not inevitable”, (bukan tak bisa dihindari) karena “repeated strategic miscalculations between major countries could create one for themselves”. Karena kesalahan perhitungan diantara kedua negara besar malah menciptakan kesalahpahaman pada diri sendiri. Begitu pesan penting dalam pidato Xi Jinping.

Jadi berhitunglah yang teliti (kalau perlu pakai Sipoa berulang kali), karena salah langkah (artinya salah perhitungan dalam langkah politik, apalagi salahnya berulang kali) bisa berakibat fatal. Sebelum adu otot, sebaiknya otak-atik otak berulang kali. Diplomasi, sebelum berdarah-darah dalam adu otot (berperang), sering-sering ngobrol (berdiskusi, tukar pikiran), jalin komunikasi politik yang intensif antara kedua belah pihak.

Anda mungkin pernah dengar ungkapan ini, “The strong do what they can and the weak suffer what they must”, pernyataan terkenal dari Thucydides juga, sejarawan Yunani dalam karyanya tentang “History of the Peloponnesian War” yang menyoroti tentang politik dan hubungan internasional, yang menekankan kekuasaan (power) ketimbang moralitas atau keadilan. Karena power-lah yang pada galibnya menentukan hasil akhir. Ya, mereka yang kuat melakukan apa yang mereka bisa lakukan, sedangkan yang lemah menderita terhadap hal yang mereka harus derita.

Thucydides hidup 400 tahun sebelum masehi. Kemudian kira-kira 2000 tahun setelahnya, artinya di abad ke-16 atau tepatnya tahun 1597, Francis Bacon berkata “Knowledge is Power” (Scientia potentia est). Dengan memahami dunia alamiah dan kenyataan praktislah yang mampu memberikan pada manusia peralatan untuk meningkatkan peradaban. Bersauh pada pengetahuan tentang kenyataan praktis bakal memampukan kita mengelola sumber daya serta memecahkan problematika yang dihadapi.

Kerja Francis Bacon “Meditationes Sacrae” dimana ia menulis tentang “Kowledge itself is power” sekarang telah menjadi tulang punggung filosofi “information age”, yang menunjukan kalau saja akses ke data-data yang reliable bisa menghasilkan pengambilan keputusan yang bermutu, niscaya bisa menghasilkan banyak inovasi serta pengaruh yang besar.

Kita bisa paham sekarang, kalau Thucydides bilang bahwa power-lah yang pada galibnya menentukan dimana mereka yang kuat melakukan apa yang mereka bisa lakukan, sedangkan yang lemah menderita yang mereka harus derita, maka Francis Bacon bilang “knowledge is power”, pakai juga otak, jangan pernah lelah mengotak-atik otak, bukan sekedar ngotot-ngototan untuk saling adu otot. Karena sekarang, power (kekuasaan) berada dalam pengetahuan (knowledge), tapi sekarang pengetahuan (knowledge) yang benar, bukan yang didasarkan hoaks atau manipulasi informasi.

Hal yang perlu kita cermati dari fenomena diplomasi AS di Beijing ini adalah apa dampaknya untuk Indonesia? Kalau akhirnya China sepakat Selat Hormus dibuka (tidak boleh ditutup atau di-blockade) dan akhirnya Iran pun setuju dengan dengan China (pembeli 80 persen ekspor minyaknya), lalu apa dampaknya buat Indonesia?

Indonesia sudah menambah kilang baru di Balikpapan, tapi belum cukup. Kita masih mesti membangun kilang lagi. Plus segi eksplorasinya, kita masih punya banyak cadangan terbukti yang belum sempat dikerjakan. Impor BBM yang menghabiskan APBN sekitar 25 persen setiap tahunnya semestinya bisa dihemat bila lifting minyak kita mencukupi. Kalau lebih, kita bisa jadi negara pengekspor minyak seperti dulu lagi.