JurnalPatroliNews | Manokwari Selatan — Sebanyak prajurit muda TNI Angkatan Darat resmi mengakhiri Pendidikan Pertama Tamtama Infanteri (Dikmata Infanteri) TNI AD Gelombang II Tahun Anggaran 2026. Penutupan pendidikan dipimpin Pangdam XVIII/Kasuari Mayjen TNI Christian Kurnianto Tehuteru di Lapangan Upacara Rindam XVIII/Kasuari, Rabu (9/9/2026).
Upacara tersebut menjadi penanda berakhirnya masa pendidikan dasar sekaligus dimulainya perjalanan panjang para prajurit muda dalam menjalankan tugas pengabdian kepada bangsa dan negara.
Dalam amanat Kepala Staf Angkatan Darat yang dibacakan Pangdam XVIII/Kasuari, para prajurit diminta tidak memandang pelantikan sebagai akhir perjalanan, melainkan sebagai titik awal memasuki medan pengabdian yang sesungguhnya.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan seiring dengan terus dipacunya pembentukan Batalyon Teritorial Pembangunan (Yon TP). Satuan tersebut diproyeksikan tidak hanya mendukung tugas pertahanan, tetapi juga berperan dalam mempercepat pembangunan di berbagai wilayah, terutama kawasan perbatasan dan daerah yang memiliki tantangan khusus.
Para prajurit yang telah menjalani pendidikan intensif selama dua bulan juga diingatkan agar tidak berhenti belajar setelah meninggalkan lembaga pendidikan. Kemampuan militer harus terus diasah, termasuk naluri keprajuritan, kedisiplinan, ketahanan mental dan kemampuan beradaptasi dengan kondisi penugasan.
Mereka juga dituntut menjaga kehormatan pribadi sekaligus nama baik satuan serta memberikan kemampuan terbaik dalam setiap tugas yang dipercayakan negara.
Upacara penutupan pendidikan tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat dan unsur Forkopimda, antara lain Kapoksahli Pangdam XVIII/Kasuari Brigjen TNI Juniras Lumban Toruan, Danrindam XVIII/Kasuari Brigjen TNI Yusuf Sampetoding, Wakil Bupati Manokwari Selatan Bernard Mesak Inyomusi, para Asisten dan Kabalak Kodam XVIII/Kasuari, Danbrigif TP 84/UA Kol Inf. Dr. Budianto Hamdani Damanik, Danyonif TP 805/KSW Letkol Inf. Aji Danar Yudha Ketawang, serta jajaran terkait lainnya.
Kehadiran unsur pemerintah daerah, TNI dan Polri tersebut memperlihatkan bahwa pembentukan prajurit dan satuan baru di wilayah Papua Barat juga berjalan dalam kerangka penguatan sinergi antarlembaga.
Penutupan Dikmata Infanteri kemudian dibuat lebih semarak melalui berbagai demonstrasi kemampuan prajurit. Sejumlah keterampilan ditampilkan, mulai dari bongkar-pasang senjata, pencak silat militer, taktik regu senapan, hingga kesenian daerah berupa Tari Seka Kaimana khas Papua.
Perpaduan antara keterampilan militer dan budaya lokal menjadi gambaran bahwa pembentukan prajurit tidak hanya diarahkan pada kemampuan bertempur, tetapi juga pada kesiapan berinteraksi dan mengabdi di tengah masyarakat.
Bagi para prajurit muda tersebut, berakhirnya pendidikan di Rindam XVIII/Kasuari bukan berarti tugas menjadi lebih ringan. Justru sejak saat inilah kemampuan yang diperoleh selama pendidikan akan diuji dalam penugasan nyata.
Khusus di wilayah Papua, tuntutan tersebut memiliki dimensi yang lebih luas. Prajurit diharapkan mampu menjalankan fungsi pertahanan sekaligus membangun kedekatan dengan masyarakat serta ikut mendukung program pembangunan sesuai mandat satuannya.
Awal pengabdian itu kini telah dimulai. Tantangannya adalah memastikan setiap ilmu, disiplin dan nilai keprajuritan yang dibentuk selama pendidikan benar-benar diwujudkan dalam tindakan nyata ketika mereka berada di tengah masyarakat dan menjalankan tugas negara.















Komentar