JurnalPatroliNews – Kuala Lumpur, — Ketidakpuasan terhadap melonjaknya biaya hidup dan lambannya pelaksanaan reformasi pemerintahan memuncak di Malaysia, ketika ribuan warga memadati pusat kota Kuala Lumpur dalam aksi protes masif yang menyerukan pengunduran diri Perdana Menteri Anwar Ibrahim.
Demonstrasi ini digagas oleh sejumlah partai oposisi, menandai gelombang protes publik terbesar sejak Anwar menjabat sebagai perdana menteri pasca-Pemilu 2022. Para demonstran berkumpul di sejumlah lokasi strategis ibu kota, sebelum akhirnya memusatkan aksi mereka di Lapangan Merdeka, simbol perjuangan demokrasi Malaysia. Spanduk dan poster yang dibawa massa bertuliskan pesan-pesan keras, termasuk satu yang mencolok: “Turun Anwar.”
Salah satu peserta aksi, Fauzi Mahmud, seorang insinyur dari Selangor, menyuarakan kekecewaannya atas kondisi ekonomi yang memburuk. “Biaya hidup makin berat. Tiga tahun Anwar memimpin, tapi janji-janji reformasi belum terasa,” ungkapnya. Ia juga mengkritik kunjungan luar negeri Anwar ke Rusia dan Eropa yang menurutnya belum membawa hasil konkret bagi rakyat.
Anwar Ibrahim, yang naik ke tampuk kekuasaan dengan platform anti-korupsi dan janji menata ulang politik Malaysia dari praktik nepotisme dan kronisme, kini dihadapkan pada tekanan publik yang meningkat. Meskipun demikian, ia masih mempertahankan tingkat dukungan cukup signifikan, dengan 55 persen warga tetap menyatakan kepercayaan terhadap kepemimpinannya menurut survei Merdeka Centre for Opinion Research.
Menjelang hari demonstrasi, pemerintah mengumumkan sejumlah kebijakan bantuan sebagai respons atas meningkatnya keresahan publik. Di antaranya adalah pemberian tunai langsung senilai 100 ringgit (sekitar Rp387 ribu) kepada seluruh warga negara yang berusia 18 tahun ke atas. Bantuan ini direncanakan mulai disalurkan pada 31 Agustus mendatang.
Selain itu, pemerintah juga memberlakukan subsidi bahan bakar, khususnya jenis RON95, bagi sekitar 18 juta pengguna kendaraan. Harga jual BBM ini dipangkas menjadi 1,99 ringgit per liter (Rp7.712), lebih rendah dari harga sebelumnya yaitu 2,05 ringgit (Rp7.944).
Namun, langkah-langkah ini dipandang sebagian analis politik sebagai upaya meredam ledakan kemarahan massa menjelang aksi 26 Juli, alih-alih sebagai solusi jangka panjang.
Meski dihadapkan pada krisis domestik, Anwar masih mendapat pengakuan atas perannya dalam menjaga stabilitas politik serta membangun diplomasi regional melalui kiprahnya di ASEAN—dua faktor yang dinilai menjadi pilar utama bagi tingkat dukungan yang masih ia miliki di tengah badai kritik.














