RI Diminta Tak Hanya Andalkan AS dan China, Wamenlu Dorong Ekspansi Dagang ke Afrika dan Amerika Latin

JurnalPatroliNews – Jakarta – Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Arif Havas Oegroseno, menekankan pentingnya strategi diversifikasi pasar ekspor sebagai langkah mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap dua mitra dagang utama: Amerika Serikat dan Tiongkok.

Dalam pernyataannya di Gedung Kadin Indonesia, Jakarta, pada Senin, 4 Agustus 2025, Havas mengajak pelaku usaha untuk lebih berani mengeksplorasi potensi pasar non-tradisional, khususnya kawasan Afrika dan Amerika Latin.

“Kita tidak bisa hanya terpaku pada pasar yang itu-itu saja. Perluas cakupan mitra dagang sangat penting untuk memperkuat daya tahan ekonomi,” ujarnya.

Havas menggarisbawahi potensi Afrika sebagai pasar strategis dan sumber daya yang kaya. Ia menyebut Afrika Utara berpotensi menjadi mitra penting dalam penyediaan bahan baku pupuk, karena kawasan tersebut merupakan sentra produksi fosfat global. Sementara itu, negara-negara di Afrika Timur dinilai membutuhkan berbagai produk unggulan Indonesia seperti obat-obatan, vaksin, petrokimia, dan komponen mesin.

“Kawasan Afrika Barat dan Selatan juga menunjukkan kebutuhan serupa. Dengan populasi lebih dari satu miliar jiwa, Afrika adalah pasar yang tidak boleh kita abaikan,” jelasnya.

Tak hanya Afrika, kawasan Amerika Latin juga menjadi sorotan. Menurut Havas, ekspor Indonesia ke wilayah ini masih tergolong rendah, padahal potensi ekonominya sangat besar dengan pasar konsumen yang luas.

“Pasar Amerika Latin belum banyak digarap, padahal penduduknya sangat besar dan beragam kebutuhannya. Ini peluang yang harus segera dimanfaatkan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa peta perdagangan global telah mengalami pergeseran. Banyak mitra dagang utama AS kini telah menjalin relasi ekonomi dengan kawasan lain di luar Indonesia. Hal ini menuntut Indonesia untuk memperluas jangkauan ke pasar-pasar alternatif.

“Sebagian besar perdagangan AS kini mengalir ke wilayah lain. Artinya, kita harus lebih proaktif mencari pasar yang belum kita garap secara maksimal,” ujar Havas.

Meski mendorong ekspansi ke pasar baru, ia menekankan bahwa kawasan ASEAN tetap merupakan prioritas strategis. Ia mendorong agar hambatan perdagangan di kawasan segera dikurangi dan sinergi ekonomi antarprovinsi dalam negeri diperkuat untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok regional.

“Perdagangan antarprovinsi juga perlu didorong, dan di ASEAN kita harus terus identifikasi hambatan dagang yang bisa dikurangi agar integrasi kawasan makin solid,” tutupnya.